Tampilkan postingan dengan label Hilda's review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hilda's review. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2015

Asean Literary Festival 2015 Adventure



Halo! Hari ini saya mau cerita pengalaman saya pada Asean Literary Festival (ALF) 2015. Festival yang diadakan dari taggal 15-22 Maret ini merupakan rangkaian roadshow ke taman, perpustakaan, dan universitas, sebelum puncaknya di Taman Ismail Marzuki. Tahun lalu saya datang sebagai penonton, tapi tahun ini saya menjadi salah satu sukarelawan. Tahun depan? Saya jadi speaker, dong! -> abaikan

Festival dibuka dengan pembacaan puisi dan musikalisasi puisi di Taman Menteng. Ada cukup banyak tokoh yang datang, beberapa di antaranya Bernard Batubara, Saras Dewi, dan tentunya co-founder festival ini Okky Madasari. Pembukaan dengan judul Poetry in the Park itu berhasil berjalan cukup lancar meski sebelumnya hujan deras di Taman Menteng. Acara pun dilangsungkan di rumah kaca dan ditutup dengan… meletuskan balon yang seharusnya diterbangkan haha. Penampilan puisi yang paling saya ingat mungkin dari Sastra Kalimalang. Totalitas penuh dengan buka-buka baju. (it’s a guy, in case you’re curious)

Setelah pembukaan yang diwarnai hujan, Senin sampai Rabu diisi dengan roadshow ke perpustakaan dan universitas. Akhirnya sampai juga di hari Kamis, yang merupakan Opening Night dari ALF 2015! Saya sebagai Liaison Officer berlaku sebagai penerima tamu pada Malam Pembukaan. Yang paling saya ingat dari tamu yang hadir sih ketika Menteri Luar Negeri Retno Marsudi datang dengan mobil yang berhenti tepat di pintu gerbang teater kecil TIM. Huge impression is understatement. ;) Setelah makan malam dan ramah tamah, gerbang teater kecil dibuka pada pukul 8 malam.

Ananda Sukarlan dan Nikodemus Lukas
Acara dimulai dengan tarian Poetry in Motion karya Nabilla Rasul. Saya ingat pernah menonton karyanya yang lain yang pernah dipentaskan di GoetheHaus. Sama indah dengan sebelumnya. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Krisna Pabichara dan Binar Mentari, lalu kuliah umum dari aktivis HAM asal Myanmar, Ma Thida. Permainan piano Ananda Sukarlan dan nyanyian Nikodemus Lukas sulit dilupakan, pastinya. Jari-jemari Ananda Sukarlan bagai menari di atas piano, dan saya tanpa sadar membandingkannya dengan tokoh Nodame dari Nodame Cantabile hehe.

Puncak acara diisi oleh Signmark. Signmark adalah rapper tuli asal Finlandia. Penampilannya sangat unik! You can actually feel his passion for music despite of his inability to hear. Klik di sini untuk melihat penampilan Signmark di Youtube.

Signmark sebagai penutup opening night!

Jumat, Sabtu, dan Minggu diisi dengan diskusi dan workshop. Stand-stand juga banyak mengisi halaman TIM. Bagi pencinta diskon disediakan bazaar buku murah dari Gramedia. Ada juga stand-stand penerbit Serambi dan GagasMedia, NulisBuku, jurnal Lontar, Sobat Budaya, Frankfurt Book Fest, serta Korean Cultural Center. Sayang saya tidak sempat memotret semua stand tersebut. Bagi yang mau makan, ada Food Bazaar juga yang menjual makanan-makanan khas Indonesia.

Booth Korean Cultural Center yang sempat difoto. Maaf saya biased haha.

Diskusi Book Industry in Asean Countries di teater kecil
Hari Sabtu, saya datang ke diskusi Literature and Media serta Book Industry in Asean Countries. Alasan utama sih karena speakers saya mengisi diskusi tersebut haha, tapi ada banyak poin menarik di diskusi terutama tentang censorship dan apakah bisa kita menulis dalam Bahasa Inggris untuk diterbitkan bukunya di Indonesia? (the answer is you shouldn’t, unless you self-publish it or publish it in Singapore) Saya juga sempat nonton diskusi dengan Clara Ng tentang children literature. Sempat foto bareng juga di akhir -> MISSION ACCOMPLISHED.

Di hari Sabtu juga saya sempat nonton penampilan dari Korean Cultural Center. Mereka mempersembahkan tarian K-Pop dan tradisional, juga kaligrafi dengan kuas raksasa. Saya dan beberapa sukarelawan lain yang juga fans K-Pop sih senang banget lihat penampilan cover dance tari K-Pop haha. Mungkin foto yang paling banyak saya ambil di festival ini pas tari K-Pop -> GUILTY. Sayang mereka menampilkan VIXX “Error” bukan GOT7 le crying. 

the traditional dance!

VIXX "Error". They did a good job covering the dance I think. :) Y NO GOT7 THO

I La Galigo
Hari Minggu, ada diskusi Literatures and the Fight for Equality and Justice yang saya tunggu-tunggu. Salah satu speaker, Ms. Lobna Ismail, membicarakan tentang usaha mencapai persamaan gender di Mesir. Karena topik skripsi saya mirip-mirip, saya senang bisa belajar banyak dari diskusi tersebut. Malamnya merupakan penutupan dari rangkaian acara ALF 2015. Penampilan I La Galigo dengan Khrisna Pabichara sangat berkesan tentunya (brb follow his twitter). Pembacaan puisi oleh Pak Zawawi Imron juga meninggalkan impresi kuat. Rasanya seperti melihat stand-up comedy ketika beliau di atas panggung hehe. Beliau hanya sendiri, tapi keberadannya sangat kuat! Ada juga penampilan dari Malam Puisi Jakarta, Joko Pinurbo, dan Nov yang menutup malam dengan indah.

Zawawi Imron. Simply speechless.


Malam Puisi Jakarta. Great poems!


Nov. Lovely songs!

The lovely books!
 And… that’s a wrap for my Asean Literary Festival 2015 adventure! Saya tidak sempat lihat-lihat bazaar Gramedia waktu acara, tapi sempat ke booth Serambi untuk membeli buku Katak dalam Tempurung karya Josephine Chia. Saya ketemu Ms. Chia sebagai salah satu speaker di ALF 2015, and she’s one of the sweetest person I’ve met. :) Link Goodreads untuk Katak dalam Tempurung. Salah satu speaker lain juga memberi saya buku Open the Window, Eyes Closed karya Nguyen Ngoc Thuan. Saya penasaran dengan buku ini karena katanya ini adalah A Little Prince-nya Vietnam! Looking forward to read this.


Workshop Starting Your Own Unique and Attractive Library and Bookstore

Tahun depan juga akan ada Asean Literary Festival, jadi yang tidak datang tahun ini bisa datang tahun depan, ya! Akan ada banyak diskusi dan workshop lagi. Bisa juga daftar jadi sukarelawan seperti saya yang kemungkinan dibuka bulan Februari lagi. Semua diskusi gratis, hanya workshop yang harus bayar. Saya sendiri datang ke workshop Starting Your Own Unique and Attractive Library and Bookstore kemarin dengan Shintaro Uchinuma. Lumayan menarik sih, tapi diskusi yang gratis juga menarik kok hehe. You can follow ALF's Twitter here.

Terima kasih sudah membaca sampai sini! See you at the next ALF! Saya mungkin jadi penonton saya ya tahun depan haha. Lebih banyak waktu untuk nonton diskusi tanpa harus ngejar-ngejar speakers! :P


Minggu, 08 Februari 2015

Review Buku: The Dusty Sneakers oleh Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang

Judul: The Dusty Sneakers
Pengarang: Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang
Penerbit: Noura Books
Tanggal Terbit: Agustus 2014
Goodreads


Dari Goodreads:
Sore itu, saat Jakarta baru saja hujan, koper-koper besar telah terisi penuh. Sahabat saya itu benar-benar telah siap berangkat. Perasaan kami menjadi sedikit melankolis. Tentu kami bergembira akan keberangkatannya ke Eropa, tetapi perpisahan untuk waktu yang lama membuat kami bersedih juga.

“Surel dariku akan menghujanimu!”
“Kita akan berkontak lewat Skype!”
“Aku akan menyusulmu ke sana!”
“Tentu saja kau akan menyusulku, tinggal naik Kopaja!”
Kami pun terkikik-kikik.

“Tuliskanlah untukku kisah-kisah perjalananmu di sana. Ceritakanlah tentang bunga tulip, tentang jalan yang dilalui Jesse dan Celine di film Before Sunset, atau tentang rumah para vampire di Rumania,” pinta saya.

“Tuliskanlah juga kepadaku kisah-kisah petualanganmu. Tentang senja-senja terbaik yang kau lihat, juga tentang kawanmu yang ganjil itu, si Arip Syaman,” pintanya.

The Dusty Sneakers pun dimulai. Lewat kata, Gypsytoes dan Twosocks berusaha memaknai setiap perjalanan, dan tentu saja, menjembatani jarak yang jauh di antara mereka.

Catatan dari Paris yang bercahaya menyapa renungan di titik nol di Merauke. Pekat malam puncak Merapi larut bersama sudut misterius Kota Praha. Siprus yang berwarna biru mengisi wajah Bali yang murung sebelah. Ini adalah kisah-kisah si gadis petualang kutu buku dan si pemuda melankolis yang terkadang jenaka. Kisah yang menggantikan bincang-bincang mereka di antara bercangkir-cangkir teh dan kopi, kisah kawan di ujung sana.





Pertama kali saya mendengar tentang The Dusty Sneakers, saya sedang menguntit Twitter Noura Books. Ada pemberitahuan tentang event yang diadakan di POST, toko mungil milik pasangan penulis buku ini. Saya pun memutuskan harus ke POST dan melihat sudut kreatif yang mereka buat di Pasar Santa. Mungkin membeli The Dusty Sneakers selagi berkunjung. Tapi ketika bertemu mereka, jujur saya kehilangan setengah otak saya. Apa yang harus saya katakan? HAI-AKU-NGEFANS-BLOG-KALIAN-BOLEH-BELI-BUKUNYA-ENGGAK. Oke. Bukan respons yang kedengaran intelek sedikitpun. Saya pun pulang… setelah membeli buku Alice in Wonderland dan Kisah Masa Kecil Roald Dahl. Target membeli buku The Dusty Sneakers gagal semata-mata terlalu kikuk untuk mengambilnya.

Untungnya kakak tercinta Farisa membeli buku ini kemudian sehingga saya bisa membacanya. The Dusty Sneakers berkisah tentang perjalanan-perjalanan dua sahabat yang terpisah. Gypsytoes di Belanda dan Twosocks di Indonesia. Kisah-kisah Gypsytoes menceritakan pertemuannya dengan orang-orang baru, tempat-tempat yang tak pernah ia sangka akan ia kunjungi, dan memaknai baru arti perjalanan. Di lain sisi, kisah-kisah Twosocks mengajak kita melihat Indonesia dari sisi lain, membawa kita berkenalan dengan teman-teman lamanya, dan mempertanyai apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini.

Kalau diandaikan, kisah Gypsytoes bagaikan menari bertelanjang kaki di alun-alun kota dan Twosocks bagaikan pemain musik yang mengiringinya. Kedua cerita menambah kesenangan membaca. Saya senang karena tidak ada kesan menggurui dalam penceritaannya. Terkadang gaya penceritaan Twosocks mengingatkan saya kepada Andrea Hirata. Yang paling saya ingat dari kisah Gypsytoes adalah perjalanannya ke India dan kalimatnya bahwa yang paling penting dari perjalanan adalah teman perjalananmu. Dalam perjalanan, bahkan sahabat terbaik pun pasti dapat bertengkar. Saya sendiri dari pengalaman pribadi telah mengalaminya berkali-kali: how traveling can bring the best and the worst of us.

Akhir kata, saya merekomendasikan The Dusty Sneakers untuk para di luar sana. Buku yang lebih mirip jurnal kedua sahabat ini ditulis dengan apik dan terasa jelas dari hati. Sayang sekali tidak ada foto disertakan dalam kisah-kisah mereka sehingga pembaca terpaksa cukup puas membayangkan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Buku ini sendiri cukup tipis dan saya yakin dapat diselesaikan dalam satu kali duduk. Saya yakin setelah membaca The Dusty Sneakers, perasaan berpetualang kamu akan semakin sulit dibendung!





 

4 butterflies!
 Kisah yang asyik untuk menghabiskan sore (sambil minum teh atau kopi!).


Jumat, 30 Januari 2015

Review dan Posting Bareng: Amy and Roger's Epic Detour oleh Morgan Matson {Secret Santa 2014}

Judul: Amy and Roger's Epic Detour
Pengarang: Morgan Matson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: Juni 2014
Goodreads


Dari Goodreads:
Ayah Amy baru-baru ini meninggal karena kecelakaan mobil. Ibunya memutuskan pindah jauh untuk memulai hidup baru. Dan Amy harus menyusul ibunya dengan naik mobil... ditemani Roger.

Ia sebetulnya tak terlalu bersemangat, karena harus melakukan perjalanan panjang dengan cowok yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya tersebut.

Perjalanan ini mungkin terasa canggung––terutama karena persahabatan mereka lantas berkembang ke arah baru. Tetapi, bersama-sama, Amy dan Roger akan menemukan jalan-jalan baru untuk melanjutkan hidup.

"Bacaan musim panas nyaris sempurna yang akan membuat pembacanya mendambakan perjalanan dan kisah cinta."
–– Publishers Weekly; Starred Review






Road trip! Saya sudah membaca cukup banyak buku Young Adult bertema road trip, tapi buku ini berhasil menjadi salah satu favorit saya. Alur yang cepat, detail-detail jalur yang Amy dan Roger ambil, serta foto-foto yang menghiasi halaman buku ini membuat saya seakan mengikuti perjalanan bersama mereka. Foto-foto tagihan hotel atas nama Amy, struk belanja, maupun makanan yang Roger dan Amy makan membuat kisah mereka tampak semakin hidup.

Amy and Roger’s Epic Detour mengisahkan perjalanan darat yang dilakukan oleh Amy dan Roger, dua orang yang terpaksa berkendara selama beberapa hari untuk mengantarkan mobil ibu Amy ke Connecticut. Bermula dari dua orang asing, perjalanan panjang itu membuat mereka menjadi semakin dekat satu sama lain. Bermalam di rumah pohon dengan ancaman beruang yang mungkin datang, melewati Jalanan Paling Sepi di Amerika Serikat, mencoba makanan khas berbagai negara bagian, serta mengunjungi kampus Roger di Colorado. Perjalanan itu tidak hanya membuat mereka dekat, namun juga mengajari Amy dan Roger tentang memaafkan diri sendiri dan membiarkan yang lalu pergi.

Hubungan Amy dan Roger yang perlahan-lahan tumbuh adalah salah satu poin yang saya apresiasi. Duka cita yang Amy hadapi setelah kehilangan ayahnya diuraikan dengan hati-hati. Meskipun kisah Roger tampak tidak begitu berat jika dibandingkan, cerita Roger behasil membantu Amy kembali membuka diri terhadap orang-orang sekitarnya. Mungkin satu-satunya yang saya sayangkan di buku ini adalah kurangnya dieskplor sisi ibu Amy dan suadara laki-laki Amy, Charlie, dalam menghadapi duka cita kehilangan sang ayah.

Penerjemahan buku ini sendiri saya anggap pas, tetapi typo yang membludak membuat saya sungguh-sungguh mengharapkan proofreader yang lebih hati-hati. Mengingat ini buku yang cukup tebal, saya maklum dengan typo di beberapa tempat, tetapi ketika typo ditemukan hampir di setiap halaman semakin mendekati akhir buku… saya jadi bingung apakah penerbit tidak melakukan cek ulang teks sebelum diterbitkan.

Amy and Roger’s Epic Detour adalah kisah yang menyenangkan dan dijamin membuat wanderlust semakin parah. Semakin saya membalik halaman, semakin juga saya ingin melompat ke dalam mobil dan melakukan perjalanan darat bersama teman-teman saya. Granted, we can explore United States in few hours with Amy and Roger. Buku ini saya rekomendasikan bagi pencinta Young Adult kontemporer, tetapi bagi yang berniat membeli terjemahannya, pastikan kamu tidak bermasalah dengan typo atau silakan tunggu cetakan kedua yang (diharap) sudah direvisi! 






 4 butterflies!
Bacaan yang ringan dan pantas untuk menghabiskan waktu. :)


 ***

Terima kasih kepada Santa Rendria yang sudah mengirimkan buku wishlist utama saya ini! <3 Teknik menemukan saya: ctrl+F daftar BBI-ers yang domisili Malang -> buka blog mereka dan lihat tanggal recent posts di blognya -> setelah ketemu yang cocok, crosscheck di daftar Santa. Done!

Cara di atas hanya dapat digunakan karena tidak banyak BBIers Malang. Tapi mengingat saya enggak jago riddle, maaf ya kalau salah Santa hihi. Nanti saya update kalau salah -> shameless. Maaf atas keterlambatan posting, and I hope everyone had a wonderful day today! :)

PS: X saya sepertinya sudah tahu saya sejak minggu lalu karena dia follow saya di Twitter tiba-tiba. Still waiting for her post! :P 


Jumat, 11 Juli 2014

Review Buku: Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

Judul: Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Tanggal terbit: Januari 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Dari Goodreads:
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.




3.5 bintang

Mungkin saya salah satu dari sedikit orang yang memberi 3 bintang untuk buku ini. Jujur, saya punya ekspektasi yang sangat tinggi akan trilogi karya Agustinus Wibowo ini. Deretan review yang memuji-muji serial ini di Goodreads, box set yang sangat menggiurkan, serta lembaran-lembaran foto asli penulis yang dicetak berwarna. God. I fall in love.

Selimut Debu merupakan lembaran-lembaran jurnal Agustinus Wibowo dari pengalamannya bertualang di negeri yang senantiasa dikelilingi debu, Afghanistan. Jika mendengar kata Afghanistan, pasti yang muncul di benak kita adalah padang pasir. Taliban. Perang saudara. Kemiskinan. Akan tetapi, melalui tulisan sang penulis, kita melihat sudut lain dari Afghanistan, negeri tanah air bangsa Afghan. Negeri di mana debu bagaikan air di Indonesia, di mana-mana.

Saya suka gaya bahasa Agustinus Wibowo yang lugas dan apa adanya. Pengamatannya yang jeli akan wealth gap yang lebar di negeri tersebut. Sangat menarik membaca pengalamannya hampir terjebak di tengah gunung pasir karena mobil mogok, pertemuannya dengan orang-orang di pengembaraannya, serta kisah getir ketika ia hampir ‘diserang’ lelaki Afghan karena perawakannya yang halus.

Salah satu hal paling mengejutkan yang saya temui di buku ini adalah komentar para wanita Afghan yang mengasihani wanita Malaysia yang harus membanting tulang di pabrik. Wanita Afghan yang selama ini dikasihini oleh pihak luar karena dianggap dikekang kebebasannya, ternyata telah menerima keadaan diri mereka dalam keterbatasannya. Mungkin, apa yang kita anggap sebagai ‘sangkar’ dianggap sebagai pelindung oleh sisi yang lain.

Lalu mengapa tiga bintang? Pertama, saya pusing dengan alur di buku ini. Saya bingung kejadian mana yang lebih dulu terjadi. Sang penulis telah tiba di negeri seberang pada akhir satu bagian, namun di bagian selanjutnya sang penulis masih berada di Afghanistan. Saya akan lebih mengapresiasi bila kisah-kisah di Selimut Debu dituturkan runut sesuai kronologis karena akan jauh lebih mudah bagi pembaca untuk mengikuti perjalanan sang penulis. Sekadar usul, mungkin peta perjalanan penulis bisa ditampilkan di halaman pertama buku dua halaman penuh agar lebih mudah bagi pembaca untuk mengikutinya perjalanannya.

Kedua, hal utama yang membuat saya menurunkan satu bintang untuk buku ini adalah ketidaksetujuan saya dengan beberapa ideologi yang ditampilkan. Satu ideologi sang penulis yang ditampilkan di buku ini sangat bertentangan dengan kepercayaan pribadi saya, sehingga hal itu mengakibatkan saya harus mengurangi satu bintang.

Terlepas dari kedua hal itu, Selimut Debu adalah kisah perjalanan indah yang saya yakin telah dan akan menginspirasi banyak orang. Dihiasi foto-foto yang memukau dan menggunakan gaya penulisan yang mudah dibaca, saya merekomendasikan Selimut Debu bagi mereka yang ingin melihat Afghanistan dari perspektif lain serta pencinta fiksi traveling. 




 
 3 butterflies!
Kisah perjalanan yang sesuai untuk mengobati wanderlust!


Kamis, 01 Mei 2014

Review Buku: Catalyst (Katalis) oleh Laurie Halse Anderson

Judul: Catalyst (Katalis)
Pengarang: Laurie Halse Anderson
Tanggal terbit: Januari 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads


Dari Goodreads:
Kate Malone: pintar, mendapat nilai A untuk semua mata pelajaran, anak perempuan pendeta, dan pelari jarak jauh. Ia mampu mengatur hidupnya dengan baik dan menghabiskan waktu mengurus keluarganya sementara, pada saat yang sama, mencoba diterima di universitas impiannya, MIT. Ia sering berlari pada malam hari untuk melupakan masalah. Berlari jauh dan cepat melegakan kepalanya.

Kate menghabiskan waktu di sekolah dengan teman-teman dan pacarnya, Mitch, sambil menunggu surat datang dari MIT. Ketika akhirnya surat itu datang, dunia teratur Kate hancur berantakan karena MIT memutuskan ia belum bisa bergabung dengan universitas ternama itu. Dunianya bertambah rumit ketika ayahnya memutuskan membantu musuh masa kecilnya, Terry Litch, ketika rumah keluarga Litch terbakar. Mampukah Kate kembali ke hidup normal sebelum ia jadi gila?







Catalyst (Katalis) adalah buku yang berkesan untuk saya bahkan sebelum saya membacanya. Pertama, ini adalah karangan Laurie Halse Anderson. Hilda’s excited! Saya belum pernah membaca buku karangan Anderson, tapi saya sudah banyak mendengar puji-pujian akan buku karangan penulis tersohor di kalangan pencinta >realistic Young Adult tersebut. Kedua, buku ini saya beli dalam trip berdua bersama teman kuliah ke Bandung. Buku ini saya beli di Palasari, dan kebayang dong betapa senangnya saya mengunjungi area pencinta buku yang terkenal itu. :)

Catalyst sendiri kisahnya cukup sederhana. Tentang Kate Malone, seorang anak pendeta yang selama ini hidupnya selalu mengikuti garis lurus yang ditetapkannya sendiri. Lulus SMA dengan penghargaan, kuliah di MIT, dan menyelamatkan dunia dengan penemuan jeniusnya. Sayangnya, rencana Kate melenceng karena dirinya tidak diterima kuliah di MIT. Belum lagi tiba-tiba musuh masa kecilnya harus menginvasi ruang pribadi Kate dengan tinggal bersamanya karena kebakaran rumah. Apakah Kate mampu memperbaiki semuanya sebelum ia kehilangan kendali?

Pertama kali saya membaca Catalyst, saya sudah mengharapkan akan membaca kisah yang muram dan sedikit depressing. And boy, was I true. Catalyst adalah buku dengan jalan cerita yang intens dan depressing. Yang membuat saya mampu menyelesaikan buku itu dalam waktu beberapa jam adalah gaya penulisan sang penulis yang indah. Anderson mampu menjelaskan cerita tanpa memberitahu secara langsung kepada pembaca. Showing, not telling. Science tidbits di beberapa bagian buku juga memberi detil yang saya sukai.

Akan tetapi, sayangnya selain gaya penulisan, sulit menemukan hal lain yang saya apresiasi dari Catalyst. Meski sang penulis menampilkan banyak konflik di sepanjang cerita, akan tetapi saya tidak merasa satupun konflik tersebut terselesaikan di bagian akhir. Tidak ada perkembangan pada diri sang tokoh utama, Kate. Hal lain yang mengganggu saya adalah karena saya tidak pernah secara khusus emotionally attached ke satupun karakter. Ketika sesuatu yang sangat, sangat buruk terjadi di tengah cerita sekalipun, hal itu tidak benar-benar mengguncang perasaan saya sebagai pembaca.

Meski Catalyst adalah buku yang berkesan untuk saya karena dua hal yang saya sebutkan di bagian awal, sayang sekali ceritanya sendiri tidak berkesan. Walau saya menyukai gaya penulisan Anderson yang mendetil dan mampu membangkitkan imajinasi, saya kecewa dengan kisah yang lebih terasa seperti konflik-konflik-konflik tanpa resolusi ini. Mungkin akan butuh waktu beberapa lama sebelum saya memiliki keinginan untuk membaca karya lain dari sang penulis Catalyst.





 2 butterflies!
Not recommended, but kudos for the engaging writing!


Kamis, 27 Februari 2014

Review Buku: Gone Girl oleh Gillian Flynn

Judul: Gone Girl
Pengarang: Gillian Flynn
Tanggal Terbit: Mei 2012
Penerbit: Phoenix
Goodreads

Dari Goodreads:
On a warm summer morning in North Carthage, Missouri, it is Nick and Amy Dunne's fifth wedding anniversary. Presents are being wrapped and reservations are being made when Nick's clever and beautiful wife disappears from their rented McMansion on the Mississippi River. Husband-of-the-Year Nick isn't doing himself any favors with cringe-worthy daydreams about the slope and shape of his wife's head, but passages from Amy's diary reveal the alpha-girl perfectionist could have put anyone dangerously on edge. Under mounting pressure from the police and the media--as well as Amy's fiercely doting parents--the town golden boy parades an endless series of lies, deceits, and inappropriate behavior. Nick is oddly evasive, and he's definitely bitter--but is he really a killer? 

As the cops close in, every couple in town is soon wondering how well they know the one that they love. With his twin sister, Margo, at his side, Nick stands by his innocence. Trouble is, if Nick didn't do it, where is that beautiful wife? And what was in that silvery gift box hidden in the back of her bedroom closet?





Gone Girl adalah buku yang tidak pernah saya pikir untuk dibaca, paling tidak bukan dalam waktu dekat. Saya tahu nasib akan buku-buku sejenis Gone Girl yang saya beli. Duduk manis di rak buku, tersampul rapi, hanya untuk disapu debunya sekali-sekali dan dibaca beberapa tahun kemudian. Hampir saja buku ini mengalami nasib yang sama dengan kawan-kawannya, jika saya seminggu lalu tidak bosan dan mengambil buku secara acak. Beberapa belas halaman awal, dan BAM!

Saya tidak dapat berhenti membaca.

Gone Girl, dengan karakternya yang dengan hati-hati dibentuk dan plot yang dipikirkan matang-matang, berhasil menyihir saya. Ini bukan kisah misteri biasa di mana kita hanya dibawa menebak-nebak apakah si suami memang membunuh istrinya. Sebaliknya, buku ini sarat akan karakter-karakter rumit yang tidak hanya terdiri dari satu lapisan. Saya akui saya bukan ahli dalam memecahkan kasus di buku, tetapi saya telah cukup banyak bertemu karakter buku untuk mengenali stereotipe. Karakter yang baik seluruhnya, atau jahat sampai ke akar-akarnya. Gone Girl mengajak saya menemui karakter yang memiliki sisi baik dan buruknya, karakter-karakter yang mungkin tidak kita cintai, namun juga tidak mampu kita benci. Karakter-karakter yang secara tidak sadar membuat kita terikat secara emosional dengan mereka.

Nick dan Amy, dua karakter utama di buku ini, memainkan permainan yang berbahaya. Satu langkah keliru dan segalanya akan berakhir, tidak dengan damai namun dengan darah dan kebencian. Mungkin benar bahwa perbedaan benci dan cinta setipis kertas. When we hate someone, we become acutely aware of what the other person doing. We study the person, catalogue everything that the person likes and hates, and wait for the right opportunity to launch the attack. Persis apa yang terjadi pada karakter-karakter di buku ini.

Butuh kesabaran untuk membaca Gone Girl, tapi saya yakin bahwa sekali Anda membacanya, Anda akan kesulitan meletakkannya. Seperti saya, Anda akan bertanya-tanya: Apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah Nick membunuh Amy? Siapa sesungguhnya dalang di balik semua ini? Gone Girl akan membuat Anda kehabisan kata-kata dengan plotnya yang brilian, karakter yang tidak mudah ditebak, dan penulisan yang indah. Ini adalah psychological thriller luar biasa yang saya yakin tidak akan Anda sesali baca.

I will find you, Amy. Lovesick words, hateful intention.



 4 butterflies!
Karakter yang nyata dan plot yang sangat, sangat rapi.




Senin, 03 Februari 2014

Review Komik: Niina's First Love Story oleh Koyomi Minamori


Judul: Niina's First Love Story
Pengarang: Koyomi Minamori
Tanggal Terbit: 2013
Jumlah volume: 4
Penerbit: M&C!

Sinopsis dari cover buku:
“Sejak dulu, aku sudah menyukaimu.”

Chitose Amamiya meninggal di usianya yang ke-15. Dia lalu terlahir kembali sebagai Niina Aoyagi. 10 tahun telah berlalu. Niina pindah ke rumah baru dan berjumpa dengan Atsuro, lelaki yang pernah menjadi pacarnya di kehidupan sebelumnya sebagai Chitose. Niina pun bingung harus merasa senang atau sedih saat mengetahui Atsuro masih mencintai Chitose, apalagi usia mereka kini terpaut 15 tahun.
 
Satu hal yang pasti, baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang, perasaannya terhadap Atsuro tak pernah berubah.




Saya suka sekali kisah cinta beda usia, apalagi yang beda usianya cukup jauh. Addicted, maybe. Rasanya oh-so-sweet bahwa cinta berhasil melampaui perbedaan usia. Yang merasakan hal yang sama dengan saya, acungkan jari! *hening* Oke, lanjut.

Selain karena perbedaan usia kedua tokoh yang cukup jauh yaitu 15 tahun, hal yang membedakan manga ini dari manga lainnya adalah karena reinkarnasi mengambil bagian dalam cerita. Niina sang tokoh utama adalah kekasih dari Atsuro di kehidupan sebelumnya. 10 tahun lalu, Chitose yaitu Niina di masa lalu mengalami kecelakaan dan sejak itu Atsuro menyalahkan dirinya sendiri. Chitose yang telah terlahir kembali menjadi Niina pun harus berjuang mendapatkan cinta Atsuro yang tidak mampu melupakan Chitose.

Secara pribadi, Niina’s First Love masuk ke dalam koleksi favorite-manga saya. Artwork yang indah dan cerita yang menyentuh dengan mudah membuatnya naik ke posisi atas. Terlebih, saya mengagumi sifat Niina yang pantang menyerah dan dengan dewasa menangani permasalahan-permasalahan yang muncul di cerita. Niina sadar bahwa luka hati Atsuro yang ditinggalkan Chitose sangat dalam, maka ia pelan-pelan berusaha membuat Atsuro sadar akan keberadaannya. Ketika Niina bertemu kembali dengan keluarga dirinya di kehidupan sebelumnya pun Niina menangani masalah itu dengan hati-hati dan dipikirkan mendalam, maupun ketika ia galau dengan pilihan kuliahnya. Saya suka sekali bahwa Niina memutuskan mengejar mimpinya, bukan cowok (errr, no offense jika ada yang merasa diserang. Ini pendapat pribadi lho ;) ).

Bagi penggemar romance manga, Niina’s First Love adalah serial yang saya sangat rekomendasikan. Pas banget buat hadiah Valentine untuk pacar haha, tapi bagi yang lagi jomblo waspada galau karena cerita Niina dan Atsuro yang super sweet. Sangat menyentuh, indah, dan manis, Niina’s First Love akan membuat kamu tersenyum-senyum sendiri akan kisah cinta pasangan beda usia ini.




Five butterflies!
Romantis dan penuh dengan  lovable characters. LOOOVE this book!
♥ ∩˙▿˙∩



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...