Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Review Buku: He Loves Her Till the End oleh Monica Petra

Judul: He Loves Her Till the End
Pengarang: Monica Petra
Tanggal Terbit: 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads


Dari Goodreads:
Gadis sebenarnya malu pacaran dengan Reno, karena cowok itu jadul dan malu-maluin banget. Bayangin, kesukaan Reno adalah baca buku dan ikut perlombaan ilmiah. Setiap hari cowok itu mengantar Gadis ke sekolah naik sepeda mini!

Saat muncul Yustian yang keren dan tajir, hati Gadis terbelah dua. Anak basket vs. kutu buku, gimana nih? Apalagi Yustian bisa mengantar-jemput Gadis naik mobil, sementara sepeda mini Reno hanya berganti dengan vespa tua.

Akhirnya, meskipun merasa bersalah, Gadis memilih Yustian. Tapi apakah cinta Reno pupus begitu saja?






Well... if you survive the emotional trainwreck presented in this story, you may learn one of two things. Misalnya, jika kamu sudah punya pacar yang baik hati dan rela menerima kekurangan kamu, ingatlah bahwa dia adalah satu di antara sejuta. Jaga si pacar baik-baik. Kalau kamu bosan kencan yang gitu-gitu aja, ajak dong dia ikutan bungee jumping atau snorkeling! Dan jika kamu didekati cowok lain yang lebih bling-bling, renungkan apa yang kamu cari. Kasih sayang? Popularitas? Drama?

Monica Petra dengan luwes mengajak pembacanya masuk ke dalam isi kepala Gadis, seorang anak SMA yang mengalami dilema cinta segitiga. Jangan bayangkan serial vampir dan manusia serigala, karena yang ditawarkan buku ini adalah dua cowok biasa yang bertolak belakang.



*SPOILER ALERT! RANT AHEAD!*

Naik ke kelas tiga SMA, Gadis akhirnya memiliki pacar pertama. Namanya Reno, cowok tetangga yang sering berkunjung ke taman baca kecil milik keluarganya. Namun, Gadis malah galau. Bukan galau
 karena belajar untuk persiapan ujian masuk universitas, tetapi galau karena urusan asmara.

Usut punya usut, Gadis menilai Reno terlalu culun untuk dipekernalkan sebagai pacar. Setelah resmi berpacaran, Gadis baru menyadari bahwa gaya Reno yang old-school tidak sesuai dengan lingkungan teman-temannya yang 'kekinian'. Apalagi pilihan kendaraan Reno adalah vespa butut atau sepeda mini. Anak SMA gaul mana yang sudi dibonceng naik sepeda mini?

Gadis juga merasa acara kencan mereka berdua nggak keren. Akibat terbentur kondisi dompet yang pas-pasan, lokasi kencan mereka nggak jauh-jauh dari berduaan di rumah Gadis atau di warteg. Huh, mana seru!

Makanya, kalau Gadis ditanya apakah punya pacar, dia lebih memilih bungkam.

Saat muncul cowok keren bernama Yustian yang menawarkan tumpangan ke sekolah, Gadis pun langsung menerima dengan sukacita. Mobil Yustian jauh lebih nyaman dan membanggakan daripada berdesakan di angkot atau naik sepeda mini Reno.

Toh, Reno juga nggak pernah protes. Reno memang pacar yang saaaaangat pengertian. Cowok itu selalu berlapang dada. Baginya, selama bibir Gadis masih mengatakan "Aku sayang kamu", nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Mau ada lima Yustian juga, Reno tetep pede. Janji yang dibatalkan sepihak? Relax. Pergi berduaan dengan teman tanpa kabar? No problem. Pesta ulang tahun melupakan pacar? It's okay. Diancam cowok lain yang suka Gadis? Tenang aja....

Halllooo... Reno! Reality check, please.

Reno lupa kalau perasaan bisa berubah. Hujan perhatian kecil yang diberikan Yustian mampu menandingi limpahan kasih sayang Reno. Malam demi malam, pemuda yang menyelusup di mimpi Gadis adalah Yustian, bukan Reno yang berstatus pacar.

To be fair, Gadis sempat berusaha menjadi pacar yang baik, dia rela menjual ponselnya demi membantu keluarga Reno. Gadis juga sempat menjauhi Yustian. Dia bahkan mengupayakan pulang sebelum jam lima sore agar bisa menjaga tradisi kencan hariannya dengan Reno. Gadis juga berulang kali mengingatkan diri untuk menjalani kewajiban sebagai pacar yang berhati lurus. Namun, apa daya dia tidak kuat menolak godaan kencan bareng Yustian dan geng populer.

Mengenai karakter, untuk Gadis sudah diputuskan bahwa dia adalah simbol cewek cantik yang senantiasa bimbang dan mudah dipengaruhi. Apakah karena dia masih SMA lalu dia galau terus-menerus? Hanya penulisnya yang tahu.

Sedangkan untuk karakter Reno, cowok ini sukses membuat saya berteriak frustasi. Saya tidak yakin apakah Reno adalah cowok terlalu baik atau terlalu bego. Pasrah banget sikapnya. Meskipun saya salut atas sikap Reno yang mau berjuang demi keluarga, cowok ini jelas-jelas kebablasan berkorban untuk masalah cinta. Please, ada garis batas antara terlalu baik dan terlalu bego.

Nah, hal yang paling membingungkan adalah perkembangan karakter Yustian. Awalnya sih karakter ini dapat dimaklumi sebagai cowok populer yang biasa mendapatkan apa yang dia mau. Ganteng, kaya, dan charming... cewek SMA mana yang tidak terpikat? Sayangnya, karakter Yustian di penghujung cerita malah bikin ilfeel, perubahannya terlalu mendadak. Perkiraan saya sih, perubahan karakter ini untuk mendorong Gadis (akhirnya) mengambil keputusan.
 




  2 butterflies!

The verdict? Dua kupu-kupu untuk drama cinta segitiga SMA yang sederhana.




Minggu, 08 Februari 2015

Review Buku: The Dusty Sneakers oleh Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang

Judul: The Dusty Sneakers
Pengarang: Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang
Penerbit: Noura Books
Tanggal Terbit: Agustus 2014
Goodreads


Dari Goodreads:
Sore itu, saat Jakarta baru saja hujan, koper-koper besar telah terisi penuh. Sahabat saya itu benar-benar telah siap berangkat. Perasaan kami menjadi sedikit melankolis. Tentu kami bergembira akan keberangkatannya ke Eropa, tetapi perpisahan untuk waktu yang lama membuat kami bersedih juga.

“Surel dariku akan menghujanimu!”
“Kita akan berkontak lewat Skype!”
“Aku akan menyusulmu ke sana!”
“Tentu saja kau akan menyusulku, tinggal naik Kopaja!”
Kami pun terkikik-kikik.

“Tuliskanlah untukku kisah-kisah perjalananmu di sana. Ceritakanlah tentang bunga tulip, tentang jalan yang dilalui Jesse dan Celine di film Before Sunset, atau tentang rumah para vampire di Rumania,” pinta saya.

“Tuliskanlah juga kepadaku kisah-kisah petualanganmu. Tentang senja-senja terbaik yang kau lihat, juga tentang kawanmu yang ganjil itu, si Arip Syaman,” pintanya.

The Dusty Sneakers pun dimulai. Lewat kata, Gypsytoes dan Twosocks berusaha memaknai setiap perjalanan, dan tentu saja, menjembatani jarak yang jauh di antara mereka.

Catatan dari Paris yang bercahaya menyapa renungan di titik nol di Merauke. Pekat malam puncak Merapi larut bersama sudut misterius Kota Praha. Siprus yang berwarna biru mengisi wajah Bali yang murung sebelah. Ini adalah kisah-kisah si gadis petualang kutu buku dan si pemuda melankolis yang terkadang jenaka. Kisah yang menggantikan bincang-bincang mereka di antara bercangkir-cangkir teh dan kopi, kisah kawan di ujung sana.





Pertama kali saya mendengar tentang The Dusty Sneakers, saya sedang menguntit Twitter Noura Books. Ada pemberitahuan tentang event yang diadakan di POST, toko mungil milik pasangan penulis buku ini. Saya pun memutuskan harus ke POST dan melihat sudut kreatif yang mereka buat di Pasar Santa. Mungkin membeli The Dusty Sneakers selagi berkunjung. Tapi ketika bertemu mereka, jujur saya kehilangan setengah otak saya. Apa yang harus saya katakan? HAI-AKU-NGEFANS-BLOG-KALIAN-BOLEH-BELI-BUKUNYA-ENGGAK. Oke. Bukan respons yang kedengaran intelek sedikitpun. Saya pun pulang… setelah membeli buku Alice in Wonderland dan Kisah Masa Kecil Roald Dahl. Target membeli buku The Dusty Sneakers gagal semata-mata terlalu kikuk untuk mengambilnya.

Untungnya kakak tercinta Farisa membeli buku ini kemudian sehingga saya bisa membacanya. The Dusty Sneakers berkisah tentang perjalanan-perjalanan dua sahabat yang terpisah. Gypsytoes di Belanda dan Twosocks di Indonesia. Kisah-kisah Gypsytoes menceritakan pertemuannya dengan orang-orang baru, tempat-tempat yang tak pernah ia sangka akan ia kunjungi, dan memaknai baru arti perjalanan. Di lain sisi, kisah-kisah Twosocks mengajak kita melihat Indonesia dari sisi lain, membawa kita berkenalan dengan teman-teman lamanya, dan mempertanyai apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini.

Kalau diandaikan, kisah Gypsytoes bagaikan menari bertelanjang kaki di alun-alun kota dan Twosocks bagaikan pemain musik yang mengiringinya. Kedua cerita menambah kesenangan membaca. Saya senang karena tidak ada kesan menggurui dalam penceritaannya. Terkadang gaya penceritaan Twosocks mengingatkan saya kepada Andrea Hirata. Yang paling saya ingat dari kisah Gypsytoes adalah perjalanannya ke India dan kalimatnya bahwa yang paling penting dari perjalanan adalah teman perjalananmu. Dalam perjalanan, bahkan sahabat terbaik pun pasti dapat bertengkar. Saya sendiri dari pengalaman pribadi telah mengalaminya berkali-kali: how traveling can bring the best and the worst of us.

Akhir kata, saya merekomendasikan The Dusty Sneakers untuk para di luar sana. Buku yang lebih mirip jurnal kedua sahabat ini ditulis dengan apik dan terasa jelas dari hati. Sayang sekali tidak ada foto disertakan dalam kisah-kisah mereka sehingga pembaca terpaksa cukup puas membayangkan tempat-tempat yang mereka kunjungi. Buku ini sendiri cukup tipis dan saya yakin dapat diselesaikan dalam satu kali duduk. Saya yakin setelah membaca The Dusty Sneakers, perasaan berpetualang kamu akan semakin sulit dibendung!





 

4 butterflies!
 Kisah yang asyik untuk menghabiskan sore (sambil minum teh atau kopi!).


Jumat, 30 Januari 2015

Review dan Posting Bareng: Amy and Roger's Epic Detour oleh Morgan Matson {Secret Santa 2014}

Judul: Amy and Roger's Epic Detour
Pengarang: Morgan Matson
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: Juni 2014
Goodreads


Dari Goodreads:
Ayah Amy baru-baru ini meninggal karena kecelakaan mobil. Ibunya memutuskan pindah jauh untuk memulai hidup baru. Dan Amy harus menyusul ibunya dengan naik mobil... ditemani Roger.

Ia sebetulnya tak terlalu bersemangat, karena harus melakukan perjalanan panjang dengan cowok yang sudah bertahun-tahun tidak ditemuinya tersebut.

Perjalanan ini mungkin terasa canggung––terutama karena persahabatan mereka lantas berkembang ke arah baru. Tetapi, bersama-sama, Amy dan Roger akan menemukan jalan-jalan baru untuk melanjutkan hidup.

"Bacaan musim panas nyaris sempurna yang akan membuat pembacanya mendambakan perjalanan dan kisah cinta."
–– Publishers Weekly; Starred Review






Road trip! Saya sudah membaca cukup banyak buku Young Adult bertema road trip, tapi buku ini berhasil menjadi salah satu favorit saya. Alur yang cepat, detail-detail jalur yang Amy dan Roger ambil, serta foto-foto yang menghiasi halaman buku ini membuat saya seakan mengikuti perjalanan bersama mereka. Foto-foto tagihan hotel atas nama Amy, struk belanja, maupun makanan yang Roger dan Amy makan membuat kisah mereka tampak semakin hidup.

Amy and Roger’s Epic Detour mengisahkan perjalanan darat yang dilakukan oleh Amy dan Roger, dua orang yang terpaksa berkendara selama beberapa hari untuk mengantarkan mobil ibu Amy ke Connecticut. Bermula dari dua orang asing, perjalanan panjang itu membuat mereka menjadi semakin dekat satu sama lain. Bermalam di rumah pohon dengan ancaman beruang yang mungkin datang, melewati Jalanan Paling Sepi di Amerika Serikat, mencoba makanan khas berbagai negara bagian, serta mengunjungi kampus Roger di Colorado. Perjalanan itu tidak hanya membuat mereka dekat, namun juga mengajari Amy dan Roger tentang memaafkan diri sendiri dan membiarkan yang lalu pergi.

Hubungan Amy dan Roger yang perlahan-lahan tumbuh adalah salah satu poin yang saya apresiasi. Duka cita yang Amy hadapi setelah kehilangan ayahnya diuraikan dengan hati-hati. Meskipun kisah Roger tampak tidak begitu berat jika dibandingkan, cerita Roger behasil membantu Amy kembali membuka diri terhadap orang-orang sekitarnya. Mungkin satu-satunya yang saya sayangkan di buku ini adalah kurangnya dieskplor sisi ibu Amy dan suadara laki-laki Amy, Charlie, dalam menghadapi duka cita kehilangan sang ayah.

Penerjemahan buku ini sendiri saya anggap pas, tetapi typo yang membludak membuat saya sungguh-sungguh mengharapkan proofreader yang lebih hati-hati. Mengingat ini buku yang cukup tebal, saya maklum dengan typo di beberapa tempat, tetapi ketika typo ditemukan hampir di setiap halaman semakin mendekati akhir buku… saya jadi bingung apakah penerbit tidak melakukan cek ulang teks sebelum diterbitkan.

Amy and Roger’s Epic Detour adalah kisah yang menyenangkan dan dijamin membuat wanderlust semakin parah. Semakin saya membalik halaman, semakin juga saya ingin melompat ke dalam mobil dan melakukan perjalanan darat bersama teman-teman saya. Granted, we can explore United States in few hours with Amy and Roger. Buku ini saya rekomendasikan bagi pencinta Young Adult kontemporer, tetapi bagi yang berniat membeli terjemahannya, pastikan kamu tidak bermasalah dengan typo atau silakan tunggu cetakan kedua yang (diharap) sudah direvisi! 






 4 butterflies!
Bacaan yang ringan dan pantas untuk menghabiskan waktu. :)


 ***

Terima kasih kepada Santa Rendria yang sudah mengirimkan buku wishlist utama saya ini! <3 Teknik menemukan saya: ctrl+F daftar BBI-ers yang domisili Malang -> buka blog mereka dan lihat tanggal recent posts di blognya -> setelah ketemu yang cocok, crosscheck di daftar Santa. Done!

Cara di atas hanya dapat digunakan karena tidak banyak BBIers Malang. Tapi mengingat saya enggak jago riddle, maaf ya kalau salah Santa hihi. Nanti saya update kalau salah -> shameless. Maaf atas keterlambatan posting, and I hope everyone had a wonderful day today! :)

PS: X saya sepertinya sudah tahu saya sejak minggu lalu karena dia follow saya di Twitter tiba-tiba. Still waiting for her post! :P 


Jumat, 29 Agustus 2014

Review Buku: Garis Batas oleh Agustinus Wibowo

Judul: Garis Batas
Pengarang: Agustinus Wibowo
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads



Dari Goodreads:
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu dan lempung. Mereka memandangi gadis-gadis bercelana jins tertawa riang, sementara kaum perempuan mereka sendiri buta huruf dan tak bebas bepergian.

Negeri seberang begitu indah, namun hanya fantasi. Fantasi yang sama membawa Agustinus Wibowo bertualang ke negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan. Kirgizstan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. Negeri-negeri yang namanya semua berakhiran "Stan". Perjalanan ini bukan hanya mengajak Anda mendaki gunung salju, menapaki padang rumput, menyerapi kemegahan khazanah tradisi dan kemilau peradaban Jalan Sutra, ataupun bernostalgia dengan simbol-simbol komunisme Uni Soviet, tetapi juga menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas.






Menurut KBBI versi daring, definisi batas: 1 garis (sisi) yg menjadi perhinggaan suatu bidang; 2 ketentuan yg tidak boleh dilampaui; 3 perhinggaan.

Bagi Agustinus Wibowo, garis batas yang ia lihat di Asia Tengah (dan belahan bumi lainnya) lebih dari sekadar fenomena alam sungai dan gunung yang membagi wilayah. Garis batas itu hadir dalam berbagai bentuk: warna kulit, pakaian, suku, agama, ras, status sosial, kelas ekonomi, idelogi, politik, mata uang, bahasa, sejarah, dan sederet hal lainnya. Garis batas tersebut mengaburkan sekaligus mengukuhkan identitas yang tersemat pada setiap orang.

Negeri-negeri Asia Tengah yang Agustinus kunjungi dahulunya menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun setelah Uni Soviet bubar, muncul kebutuhan mendesak atas identitas baru bagi negara-negara ciptaan Stalin tersebut. Hal itu tidaklah mudah dipenuhi setelah sekian lama berinduk ke Moskow. . Oleh karena itu, ditetapkan satu set identitas baru: pahlawan nasional, lagu nasional, bahasa nasional, kitab pedoman nasional, tari nasional, motif tenun nasional... hal-hal bersifat berkebangsaan digali dan didengungkan untuk negeri di era yang baru. Latar belakang sang pengarang yang berdarah Tiongkok namun berpaspor burung Garuda mewarnai pandangannya mengenai kehidupan para penduduk Asia Tengah yang kini berjalan masing-masing. Ia pun membandingkan pencarian akar bangsa Asia Tengah dengan pengalamannya sendiri. Meskipun skalanya jauh berbeda, cukup menarik melihat pemikiran sang pengarang.

Kisah pertama datang dari Tajikistan. Di halaman awal diceritakan bahwa pengarang yang duduk di atas keledai Afganistan memandang iri mobil-mobil yang melintas di atas jalan mulus Tajikistan. Meskipun hanya dipisahkan sungai, jarak kedua negara ini tidak bisa dianggap remeh. Selamat menyeberang ke Tajikistan, ternyata kehidupan di negeri tersebut tidak seindah yang terlihat dari lereng gunung Afganistan. Lepas dari Tajikistan, Agustinus menyeberang ke Kirgiztan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Setiap negara punya cerita masing-masing, ada yang ekonominya morat-marit, ada yang berubah menjadi kapitalis, dan ada pula yang berlagak mampu mencukupi semua kebutuhan sambil memata-matai rakyat.

Kekurangan buku perjalanan ini adalah Agustinus tidak menyertai tanggal perjalanannya saat mencapai suatu daerah. Tidak perlu spesifik, cukup minggu, bulan, dan tahun. Kekurangan lainnya mengenai pembagian penceritaan tentang suatu negara. Pembagian bab sesuai negara memang cukup memudahkan, tetapi kadang-kadang muncul perbandingan antara dua negara atau lebih setelah suatu pemaparan panjang tentang opini sang pengarang. Saya jadi lupa saya sedang berada di bab negara mana. Jujur saja, peta sederhana yang disisipkan pengarang tidak banyak membantu. Setelah membaca satu negara sampai habis, barulah peta tersebut dipahami. Saya sarankan membaca buku ini sambil membuat catatan kecil tentang bab yang sedang dibaca sebelum berlanjut ke bab selanjutnya.

Pada akhirnya Garis Batas adalah sebuah buku yang patut dibaca.





3 butterflies!
Penulisan yang inspiratif dan kisah yang menarik.





Jumat, 11 Juli 2014

Review Buku: Selimut Debu oleh Agustinus Wibowo

Judul: Selimut Debu
Pengarang: Agustinus Wibowo
Tanggal terbit: Januari 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Dari Goodreads:
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Persia, mencari sisa-sisa kejayaan negara yang habis dikikis oleh perang dan perebutan kekuasaan, sekaligus menyingkap cadar hitam yang menyelubungi kecantikan “Tanah Bangsa Afghan” dan onggokan debu yang menyelimuti bumi mereka. Bulir demi bulir debu akan membuka mata Anda pada prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dilupakan—sampai akhirnya ditemukan kembali.




3.5 bintang

Mungkin saya salah satu dari sedikit orang yang memberi 3 bintang untuk buku ini. Jujur, saya punya ekspektasi yang sangat tinggi akan trilogi karya Agustinus Wibowo ini. Deretan review yang memuji-muji serial ini di Goodreads, box set yang sangat menggiurkan, serta lembaran-lembaran foto asli penulis yang dicetak berwarna. God. I fall in love.

Selimut Debu merupakan lembaran-lembaran jurnal Agustinus Wibowo dari pengalamannya bertualang di negeri yang senantiasa dikelilingi debu, Afghanistan. Jika mendengar kata Afghanistan, pasti yang muncul di benak kita adalah padang pasir. Taliban. Perang saudara. Kemiskinan. Akan tetapi, melalui tulisan sang penulis, kita melihat sudut lain dari Afghanistan, negeri tanah air bangsa Afghan. Negeri di mana debu bagaikan air di Indonesia, di mana-mana.

Saya suka gaya bahasa Agustinus Wibowo yang lugas dan apa adanya. Pengamatannya yang jeli akan wealth gap yang lebar di negeri tersebut. Sangat menarik membaca pengalamannya hampir terjebak di tengah gunung pasir karena mobil mogok, pertemuannya dengan orang-orang di pengembaraannya, serta kisah getir ketika ia hampir ‘diserang’ lelaki Afghan karena perawakannya yang halus.

Salah satu hal paling mengejutkan yang saya temui di buku ini adalah komentar para wanita Afghan yang mengasihani wanita Malaysia yang harus membanting tulang di pabrik. Wanita Afghan yang selama ini dikasihini oleh pihak luar karena dianggap dikekang kebebasannya, ternyata telah menerima keadaan diri mereka dalam keterbatasannya. Mungkin, apa yang kita anggap sebagai ‘sangkar’ dianggap sebagai pelindung oleh sisi yang lain.

Lalu mengapa tiga bintang? Pertama, saya pusing dengan alur di buku ini. Saya bingung kejadian mana yang lebih dulu terjadi. Sang penulis telah tiba di negeri seberang pada akhir satu bagian, namun di bagian selanjutnya sang penulis masih berada di Afghanistan. Saya akan lebih mengapresiasi bila kisah-kisah di Selimut Debu dituturkan runut sesuai kronologis karena akan jauh lebih mudah bagi pembaca untuk mengikuti perjalanan sang penulis. Sekadar usul, mungkin peta perjalanan penulis bisa ditampilkan di halaman pertama buku dua halaman penuh agar lebih mudah bagi pembaca untuk mengikutinya perjalanannya.

Kedua, hal utama yang membuat saya menurunkan satu bintang untuk buku ini adalah ketidaksetujuan saya dengan beberapa ideologi yang ditampilkan. Satu ideologi sang penulis yang ditampilkan di buku ini sangat bertentangan dengan kepercayaan pribadi saya, sehingga hal itu mengakibatkan saya harus mengurangi satu bintang.

Terlepas dari kedua hal itu, Selimut Debu adalah kisah perjalanan indah yang saya yakin telah dan akan menginspirasi banyak orang. Dihiasi foto-foto yang memukau dan menggunakan gaya penulisan yang mudah dibaca, saya merekomendasikan Selimut Debu bagi mereka yang ingin melihat Afghanistan dari perspektif lain serta pencinta fiksi traveling. 




 
 3 butterflies!
Kisah perjalanan yang sesuai untuk mengobati wanderlust!


Kamis, 01 Mei 2014

Review Buku: Catalyst (Katalis) oleh Laurie Halse Anderson

Judul: Catalyst (Katalis)
Pengarang: Laurie Halse Anderson
Tanggal terbit: Januari 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads


Dari Goodreads:
Kate Malone: pintar, mendapat nilai A untuk semua mata pelajaran, anak perempuan pendeta, dan pelari jarak jauh. Ia mampu mengatur hidupnya dengan baik dan menghabiskan waktu mengurus keluarganya sementara, pada saat yang sama, mencoba diterima di universitas impiannya, MIT. Ia sering berlari pada malam hari untuk melupakan masalah. Berlari jauh dan cepat melegakan kepalanya.

Kate menghabiskan waktu di sekolah dengan teman-teman dan pacarnya, Mitch, sambil menunggu surat datang dari MIT. Ketika akhirnya surat itu datang, dunia teratur Kate hancur berantakan karena MIT memutuskan ia belum bisa bergabung dengan universitas ternama itu. Dunianya bertambah rumit ketika ayahnya memutuskan membantu musuh masa kecilnya, Terry Litch, ketika rumah keluarga Litch terbakar. Mampukah Kate kembali ke hidup normal sebelum ia jadi gila?







Catalyst (Katalis) adalah buku yang berkesan untuk saya bahkan sebelum saya membacanya. Pertama, ini adalah karangan Laurie Halse Anderson. Hilda’s excited! Saya belum pernah membaca buku karangan Anderson, tapi saya sudah banyak mendengar puji-pujian akan buku karangan penulis tersohor di kalangan pencinta >realistic Young Adult tersebut. Kedua, buku ini saya beli dalam trip berdua bersama teman kuliah ke Bandung. Buku ini saya beli di Palasari, dan kebayang dong betapa senangnya saya mengunjungi area pencinta buku yang terkenal itu. :)

Catalyst sendiri kisahnya cukup sederhana. Tentang Kate Malone, seorang anak pendeta yang selama ini hidupnya selalu mengikuti garis lurus yang ditetapkannya sendiri. Lulus SMA dengan penghargaan, kuliah di MIT, dan menyelamatkan dunia dengan penemuan jeniusnya. Sayangnya, rencana Kate melenceng karena dirinya tidak diterima kuliah di MIT. Belum lagi tiba-tiba musuh masa kecilnya harus menginvasi ruang pribadi Kate dengan tinggal bersamanya karena kebakaran rumah. Apakah Kate mampu memperbaiki semuanya sebelum ia kehilangan kendali?

Pertama kali saya membaca Catalyst, saya sudah mengharapkan akan membaca kisah yang muram dan sedikit depressing. And boy, was I true. Catalyst adalah buku dengan jalan cerita yang intens dan depressing. Yang membuat saya mampu menyelesaikan buku itu dalam waktu beberapa jam adalah gaya penulisan sang penulis yang indah. Anderson mampu menjelaskan cerita tanpa memberitahu secara langsung kepada pembaca. Showing, not telling. Science tidbits di beberapa bagian buku juga memberi detil yang saya sukai.

Akan tetapi, sayangnya selain gaya penulisan, sulit menemukan hal lain yang saya apresiasi dari Catalyst. Meski sang penulis menampilkan banyak konflik di sepanjang cerita, akan tetapi saya tidak merasa satupun konflik tersebut terselesaikan di bagian akhir. Tidak ada perkembangan pada diri sang tokoh utama, Kate. Hal lain yang mengganggu saya adalah karena saya tidak pernah secara khusus emotionally attached ke satupun karakter. Ketika sesuatu yang sangat, sangat buruk terjadi di tengah cerita sekalipun, hal itu tidak benar-benar mengguncang perasaan saya sebagai pembaca.

Meski Catalyst adalah buku yang berkesan untuk saya karena dua hal yang saya sebutkan di bagian awal, sayang sekali ceritanya sendiri tidak berkesan. Walau saya menyukai gaya penulisan Anderson yang mendetil dan mampu membangkitkan imajinasi, saya kecewa dengan kisah yang lebih terasa seperti konflik-konflik-konflik tanpa resolusi ini. Mungkin akan butuh waktu beberapa lama sebelum saya memiliki keinginan untuk membaca karya lain dari sang penulis Catalyst.





 2 butterflies!
Not recommended, but kudos for the engaging writing!


Senin, 03 Maret 2014

Review Buku: Liesl & Po oleh Lauren Oliver

Judul: Liesl & Po
Pengarang: Lauren Oliver
Tanggal terbit: April 2013
Penerbit: Mizan Fantasi
Goodreads

Dari Goodreads:
Di hari ketiga setelah kematian ayahnya, Liesl melihat hantu.

Liesl dikurung di loteng oleh sang ibu tiri. Di malam-malam gelap, Liesl menghibur diri dengan menggambar. Lalu, kegelapan di lotengnya menggeliat dan melentur, memunculkan sesosok hantu. Po, yang datang dari Dunia Lain, tempat roh dan hantu berkeliaran di kegelapan yang membentang seluas semesta. Liesl berharap Po bisa menemukan ayahnya di Dunia Lain.

Suatu hari, tak sengaja Will, murid sang Alkemis, menukar kotak berisi sihir terkuat di dunia dengan kotak abu ayah Liesl. Sebuah kesalahan yang menarik dua anak dan satu hantu dalam sebuah petualangan yang menegangkan. Petualangan yang membuat Dunia Lain dan Dunia Nyata bersentuhan dan membuka rahasia-rahasia mengerikan.

Kisah tentang persahabatan dan rasa sepi, keserakahan dan kemurahan hati, kematian dan kehidupan, Lauren Oliver berhasil meramu kisah yang petualangan yang menegangkan sekaligus menghangatkan hati.




Dua orang bocah dan tiga hantu menyelamatkan dunia dari kemuraman abadi, begitulah inti ceritanya. Namun, apa yang membuat buku ini menarik?

Liesl & Po tidak jelas ditempatkan di rentang waktu yang mana dan di belahan Eropa yang mana. Kelas sosial yang terbagi-bagi di masyarakat mengingatkan zaman Victoria, namun adanya banyak cerobong asap dan alat-alat modern mengingatkan era sebelum Perang Dunia Pertama.

Akan tetapi, kita seolah dituntun menyaksikan keajaiban, meskipun kita belum tahu kejaiban apa yang kita nantikan dalam kisah ini.

Liesl dan Po hanya berjuang mengembalikan abu jenazah ayah Liesl ke rumah masa kecil Liesl dahulu, sebuah rumah mungil di tepi danau. Akan tetapi, misi sederhana nyaris tampak mustahil saat mereka tidak punya uang dan dicari-cari banyak pihak.

Gaya bercerita Lauren Oliver dalam buku ini mengingatkan saya akan gaya bercerita Kate DiCamillo dalam Tale of Desperaux. Setiap tokoh punya andil dalam cerita, tak peduli betapa remehnya.

Liesl, Po, dan tokoh-tokoh lain menunjukkan bahwa yang mustahil tampak mungkin ketika semua orang bekerja sama mewujudkan hasrat mereka, terlepas apakah hasrat tersebut berbenturan dengan impian orang lain.






 3 butterflies!
Tidak begitu berkesan, tapi cukup menarik.







Kamis, 27 Februari 2014

Review Buku: Gone Girl oleh Gillian Flynn

Judul: Gone Girl
Pengarang: Gillian Flynn
Tanggal Terbit: Mei 2012
Penerbit: Phoenix
Goodreads

Dari Goodreads:
On a warm summer morning in North Carthage, Missouri, it is Nick and Amy Dunne's fifth wedding anniversary. Presents are being wrapped and reservations are being made when Nick's clever and beautiful wife disappears from their rented McMansion on the Mississippi River. Husband-of-the-Year Nick isn't doing himself any favors with cringe-worthy daydreams about the slope and shape of his wife's head, but passages from Amy's diary reveal the alpha-girl perfectionist could have put anyone dangerously on edge. Under mounting pressure from the police and the media--as well as Amy's fiercely doting parents--the town golden boy parades an endless series of lies, deceits, and inappropriate behavior. Nick is oddly evasive, and he's definitely bitter--but is he really a killer? 

As the cops close in, every couple in town is soon wondering how well they know the one that they love. With his twin sister, Margo, at his side, Nick stands by his innocence. Trouble is, if Nick didn't do it, where is that beautiful wife? And what was in that silvery gift box hidden in the back of her bedroom closet?





Gone Girl adalah buku yang tidak pernah saya pikir untuk dibaca, paling tidak bukan dalam waktu dekat. Saya tahu nasib akan buku-buku sejenis Gone Girl yang saya beli. Duduk manis di rak buku, tersampul rapi, hanya untuk disapu debunya sekali-sekali dan dibaca beberapa tahun kemudian. Hampir saja buku ini mengalami nasib yang sama dengan kawan-kawannya, jika saya seminggu lalu tidak bosan dan mengambil buku secara acak. Beberapa belas halaman awal, dan BAM!

Saya tidak dapat berhenti membaca.

Gone Girl, dengan karakternya yang dengan hati-hati dibentuk dan plot yang dipikirkan matang-matang, berhasil menyihir saya. Ini bukan kisah misteri biasa di mana kita hanya dibawa menebak-nebak apakah si suami memang membunuh istrinya. Sebaliknya, buku ini sarat akan karakter-karakter rumit yang tidak hanya terdiri dari satu lapisan. Saya akui saya bukan ahli dalam memecahkan kasus di buku, tetapi saya telah cukup banyak bertemu karakter buku untuk mengenali stereotipe. Karakter yang baik seluruhnya, atau jahat sampai ke akar-akarnya. Gone Girl mengajak saya menemui karakter yang memiliki sisi baik dan buruknya, karakter-karakter yang mungkin tidak kita cintai, namun juga tidak mampu kita benci. Karakter-karakter yang secara tidak sadar membuat kita terikat secara emosional dengan mereka.

Nick dan Amy, dua karakter utama di buku ini, memainkan permainan yang berbahaya. Satu langkah keliru dan segalanya akan berakhir, tidak dengan damai namun dengan darah dan kebencian. Mungkin benar bahwa perbedaan benci dan cinta setipis kertas. When we hate someone, we become acutely aware of what the other person doing. We study the person, catalogue everything that the person likes and hates, and wait for the right opportunity to launch the attack. Persis apa yang terjadi pada karakter-karakter di buku ini.

Butuh kesabaran untuk membaca Gone Girl, tapi saya yakin bahwa sekali Anda membacanya, Anda akan kesulitan meletakkannya. Seperti saya, Anda akan bertanya-tanya: Apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah Nick membunuh Amy? Siapa sesungguhnya dalang di balik semua ini? Gone Girl akan membuat Anda kehabisan kata-kata dengan plotnya yang brilian, karakter yang tidak mudah ditebak, dan penulisan yang indah. Ini adalah psychological thriller luar biasa yang saya yakin tidak akan Anda sesali baca.

I will find you, Amy. Lovesick words, hateful intention.



 4 butterflies!
Karakter yang nyata dan plot yang sangat, sangat rapi.




Jumat, 31 Januari 2014

Review Buku: The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak oleh Neil Gaiman

Judul: The Ocean at The End of The Lane - Samudra di Ujung Jalan Setapak
Pengarang: Neil Gaiman
Tanggal Publikasi: Agustus 2013
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah fabel yang membentuk ulang kisah fantasi modern: menggugah, menakutkan, dan puitis—semurni mimpi, segetas sayap kupu-kupu, dari pencerita genius Neil Gaiman.

Kisahnya dimulai empat puluh tahun silam, ketika pemondok di rumah keluarga sang Pencerita mencuri mobil mereka dan bunuh diri di dalamnya. Peristiwa ini membangkitkan kekuatan-kekuatan purba yang seharusnya dibiarkan tak terusik. Makhluk-makhluk gelap dari dunia seberang kini lepas, dan sang Pencerita harus mengerahkan segala daya upayanya agar bisa bertahan hidup: ada kengerian yang nyata di sini, dan kuasa jahat yang terlepas—di dalam keluarganya dan dari kekuatan-kekuatan yang bersatu untuk menghancurkannya.

Yang bisa melindunginya hanyalah tiga perempuan yang tinggal di pertanian ujung jalan. Perempuan yang paling muda menyatakan kolam bebeknya adalah samudra. Perempuan yang paling tua mengaku pernah menyaksikan peristiwa Ledakan Besar.





3.5 stars

Kata Lettie Hempstock, itu samudra, tapi aku tahu itu tidak mungkin. Kata Lettie, mereka datang kemari menyeberangi lautan, dari negeri lama.

The Ocean at the End of the Lane – Samudra di Ujung Jalan Setapak – adalah dongeng fantastis persembahan terbaru dari Neil Gaiman.

Peristiwa-peristiwa aneh dimulai semenjak kejadian bunuh diri penyewa kamar di rumah si Pencerita, seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun. Kematian pria tersebut memicu serangkaian kejadian aneh yang berkaitan dengan uang di lingkungan pedesaan mereka. Lettie Hempstock, anak aneh yang tinggal di pertanian di ujung jalan setapak, mengajak si Pencerita untuk membereskan makhluk yang menyebabkan kejadian-kejadian tersebut. Akan tetapi, makhluk tersebut tidak semudah itu diusir, dan kedatangan si Pencerita ke wilayahnya adalah saat yang tepat untuk kabur dan menghancurkan tatanan di dunia…

Ganjil, gelap, dan menghantui adalah kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini. Seperti Coraline, Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah kisah yang aneh, mengerikan, dan dipenuhi makhluk-makhluk tua yang mengincar kerakusan manusia. Bagaikan domino mimpi buruk, si Pencerita telah membawa makhluk lain itu ke dunia manusia, dan sebagai balasannya ia harus membayar mahal. Tidak seperti Coraline yang masih bisa dibaca anak-anak, Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah dongeng yang diperuntukkan untuk dewasa.

Beberapa bagian di buku ini berhasil membuat saya berdebar-debar dalam antisipasi. Ketika makhluk tersebut muncul di rumah si Pencerita dalam wujud manusia, kita tahu bahwa ini adalah permainan kucing dan tikus yang mengerikan. Akankah makhluk itu mendapatkan si Pencerita dalam genggamannya? Akankah Lottie menolongnya tepat pada waktunya? Duh, pertanyaan-pertanyaan itu membuat hati saya kebat-kebit dan tidak mampu meletakkan buku ini.

Meskipun excitement dan thriller di buku ini agak melemah di bagian akhir bagaikan potongan puzzle yang tidak sempurna, saya tetap memberikan acungan jempol kepada Neil Gaiman, sang penyihir kata-kata. Ia mampu menciptakan makhluk yang membuat bulu kuduk meremang dan meramunya menjadi kisah yang fantastis. Terjemahan buku ini menurut saya lumayan, meskipun saya agak kecewa karena beberapa bagian lagu dipilih untuk tidak diterjemahkan. Kudos untuk cover edisi Indonesia Samudra di Ujung Jalan Setapak. Sangat indah dan sukses menarik mata saya ke buku ini.


Akhir kata, buku ini saya rekomendasikan terutama untuk fans Neil Geiman dan dark fairytales. Gelap dan menghantui, buku ini pantas untuk dibaca paling tidak sekali.




 3.5 butterflies!
Agak terlalu aneh untuk selera saya, but magical as always.





Sabtu, 25 Januari 2014

Review Buku: The Railway Children - Anak-Anak Kereta Api oleh E. Nesbit

Judul: The Railway Children - Anak-Anak Kereta Api
Pengarang: E. Nesbit
Tanggal publikasi: Juni 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Roberta, Peter, dan Phyllis hidup bahagia di Vila Edgecombe, tapi mereka tidak menyadari betapa bahagianya mereka sampai sesuatu terjadi... sesuatu yang memaksa mereka menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.

Ketika Ayah terpaksa pergi beberapa lama, ketiga anak itu bersama Ibu meninggalkan rumah mereka di London dan pindah ke pondok kecil di pedesaan. Anak-anak itu mencari hiburan di stasiun kereta api dekat pondok mereka dan berkawan dengan Pak Perks, portir stasiun, dan bahkan juga dengan Kepala Stasiun. Tapi satu hal tetap merupakan misteri: ke manakah Ayah dan akankah Ayah kembali?





I am glad I bought this book.

Awalnya saya kira buku ini sejalan dengan cerita Nobody's Boy yang juga diterbitkan oleh GPU seri klasik. Tiga anak miskin yang ditinggal oleh Ayahnya pergi entah ke mana lalu sering berkeliaran di stasiun kereta. Untungnya perkiraan saya salah. Buku ini menceritakan tiga orang anak yang dulunya orang menengah-atas menjalani kehidupan orang miskin yang tidak merana-merana amat, meskipun merasa kesepian akibat ditinggal sang ayah secara tiba-tiba.

E. Nesbit menempatkan diri sebagai pihak ketiga, seorang yang tahu segala, tetapi memutuskan untuk bercerita sedikit demi sedikit, layaknya seornag biografer. Mulanya, kita diajak melihat kehidupan sebuah keluarga bahagia yang serba berkecukupan di London. Suatu malam, datang dua orang tamu yang mengajak sang ayah untuk pergi dan sejak itu kehidupan mereka semua berubah.

Buku ini sarat pesan moral, seperti: integritas, kecakapan, dan selalu siap siaga meskipun ketiga anak tersebut bukan anggota pramuka. Sang ibu berusaha keras agar kehidupan ceria anak-anaknya tidak berubah walaupun secara finansial mereka tidak lagi kaya, malah harus berhemat sebisa mungkin.

Banyak peristiwa yang umm... fantastis terjadi di desa tempat mereka tinggal. Meskipun kejadian-kejadian heroik yang diceritakan agak terlalu dramatis, peristiwa-peristiwa tersebut mengundang tawa dan haru para pembaca.








 3 butterflies!
 Direkomendasikan untuk penggemar Enid Blyton.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...