Tampilkan postingan dengan label Farisa's review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farisa's review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Review Buku: He Loves Her Till the End oleh Monica Petra

Judul: He Loves Her Till the End
Pengarang: Monica Petra
Tanggal Terbit: 2008
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads


Dari Goodreads:
Gadis sebenarnya malu pacaran dengan Reno, karena cowok itu jadul dan malu-maluin banget. Bayangin, kesukaan Reno adalah baca buku dan ikut perlombaan ilmiah. Setiap hari cowok itu mengantar Gadis ke sekolah naik sepeda mini!

Saat muncul Yustian yang keren dan tajir, hati Gadis terbelah dua. Anak basket vs. kutu buku, gimana nih? Apalagi Yustian bisa mengantar-jemput Gadis naik mobil, sementara sepeda mini Reno hanya berganti dengan vespa tua.

Akhirnya, meskipun merasa bersalah, Gadis memilih Yustian. Tapi apakah cinta Reno pupus begitu saja?






Well... if you survive the emotional trainwreck presented in this story, you may learn one of two things. Misalnya, jika kamu sudah punya pacar yang baik hati dan rela menerima kekurangan kamu, ingatlah bahwa dia adalah satu di antara sejuta. Jaga si pacar baik-baik. Kalau kamu bosan kencan yang gitu-gitu aja, ajak dong dia ikutan bungee jumping atau snorkeling! Dan jika kamu didekati cowok lain yang lebih bling-bling, renungkan apa yang kamu cari. Kasih sayang? Popularitas? Drama?

Monica Petra dengan luwes mengajak pembacanya masuk ke dalam isi kepala Gadis, seorang anak SMA yang mengalami dilema cinta segitiga. Jangan bayangkan serial vampir dan manusia serigala, karena yang ditawarkan buku ini adalah dua cowok biasa yang bertolak belakang.



*SPOILER ALERT! RANT AHEAD!*

Naik ke kelas tiga SMA, Gadis akhirnya memiliki pacar pertama. Namanya Reno, cowok tetangga yang sering berkunjung ke taman baca kecil milik keluarganya. Namun, Gadis malah galau. Bukan galau
 karena belajar untuk persiapan ujian masuk universitas, tetapi galau karena urusan asmara.

Usut punya usut, Gadis menilai Reno terlalu culun untuk dipekernalkan sebagai pacar. Setelah resmi berpacaran, Gadis baru menyadari bahwa gaya Reno yang old-school tidak sesuai dengan lingkungan teman-temannya yang 'kekinian'. Apalagi pilihan kendaraan Reno adalah vespa butut atau sepeda mini. Anak SMA gaul mana yang sudi dibonceng naik sepeda mini?

Gadis juga merasa acara kencan mereka berdua nggak keren. Akibat terbentur kondisi dompet yang pas-pasan, lokasi kencan mereka nggak jauh-jauh dari berduaan di rumah Gadis atau di warteg. Huh, mana seru!

Makanya, kalau Gadis ditanya apakah punya pacar, dia lebih memilih bungkam.

Saat muncul cowok keren bernama Yustian yang menawarkan tumpangan ke sekolah, Gadis pun langsung menerima dengan sukacita. Mobil Yustian jauh lebih nyaman dan membanggakan daripada berdesakan di angkot atau naik sepeda mini Reno.

Toh, Reno juga nggak pernah protes. Reno memang pacar yang saaaaangat pengertian. Cowok itu selalu berlapang dada. Baginya, selama bibir Gadis masih mengatakan "Aku sayang kamu", nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Mau ada lima Yustian juga, Reno tetep pede. Janji yang dibatalkan sepihak? Relax. Pergi berduaan dengan teman tanpa kabar? No problem. Pesta ulang tahun melupakan pacar? It's okay. Diancam cowok lain yang suka Gadis? Tenang aja....

Halllooo... Reno! Reality check, please.

Reno lupa kalau perasaan bisa berubah. Hujan perhatian kecil yang diberikan Yustian mampu menandingi limpahan kasih sayang Reno. Malam demi malam, pemuda yang menyelusup di mimpi Gadis adalah Yustian, bukan Reno yang berstatus pacar.

To be fair, Gadis sempat berusaha menjadi pacar yang baik, dia rela menjual ponselnya demi membantu keluarga Reno. Gadis juga sempat menjauhi Yustian. Dia bahkan mengupayakan pulang sebelum jam lima sore agar bisa menjaga tradisi kencan hariannya dengan Reno. Gadis juga berulang kali mengingatkan diri untuk menjalani kewajiban sebagai pacar yang berhati lurus. Namun, apa daya dia tidak kuat menolak godaan kencan bareng Yustian dan geng populer.

Mengenai karakter, untuk Gadis sudah diputuskan bahwa dia adalah simbol cewek cantik yang senantiasa bimbang dan mudah dipengaruhi. Apakah karena dia masih SMA lalu dia galau terus-menerus? Hanya penulisnya yang tahu.

Sedangkan untuk karakter Reno, cowok ini sukses membuat saya berteriak frustasi. Saya tidak yakin apakah Reno adalah cowok terlalu baik atau terlalu bego. Pasrah banget sikapnya. Meskipun saya salut atas sikap Reno yang mau berjuang demi keluarga, cowok ini jelas-jelas kebablasan berkorban untuk masalah cinta. Please, ada garis batas antara terlalu baik dan terlalu bego.

Nah, hal yang paling membingungkan adalah perkembangan karakter Yustian. Awalnya sih karakter ini dapat dimaklumi sebagai cowok populer yang biasa mendapatkan apa yang dia mau. Ganteng, kaya, dan charming... cewek SMA mana yang tidak terpikat? Sayangnya, karakter Yustian di penghujung cerita malah bikin ilfeel, perubahannya terlalu mendadak. Perkiraan saya sih, perubahan karakter ini untuk mendorong Gadis (akhirnya) mengambil keputusan.
 




  2 butterflies!

The verdict? Dua kupu-kupu untuk drama cinta segitiga SMA yang sederhana.




Jumat, 29 Agustus 2014

Review Buku: Garis Batas oleh Agustinus Wibowo

Judul: Garis Batas
Pengarang: Agustinus Wibowo
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads



Dari Goodreads:
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu dan lempung. Mereka memandangi gadis-gadis bercelana jins tertawa riang, sementara kaum perempuan mereka sendiri buta huruf dan tak bebas bepergian.

Negeri seberang begitu indah, namun hanya fantasi. Fantasi yang sama membawa Agustinus Wibowo bertualang ke negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan. Kirgizstan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. Negeri-negeri yang namanya semua berakhiran "Stan". Perjalanan ini bukan hanya mengajak Anda mendaki gunung salju, menapaki padang rumput, menyerapi kemegahan khazanah tradisi dan kemilau peradaban Jalan Sutra, ataupun bernostalgia dengan simbol-simbol komunisme Uni Soviet, tetapi juga menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas.






Menurut KBBI versi daring, definisi batas: 1 garis (sisi) yg menjadi perhinggaan suatu bidang; 2 ketentuan yg tidak boleh dilampaui; 3 perhinggaan.

Bagi Agustinus Wibowo, garis batas yang ia lihat di Asia Tengah (dan belahan bumi lainnya) lebih dari sekadar fenomena alam sungai dan gunung yang membagi wilayah. Garis batas itu hadir dalam berbagai bentuk: warna kulit, pakaian, suku, agama, ras, status sosial, kelas ekonomi, idelogi, politik, mata uang, bahasa, sejarah, dan sederet hal lainnya. Garis batas tersebut mengaburkan sekaligus mengukuhkan identitas yang tersemat pada setiap orang.

Negeri-negeri Asia Tengah yang Agustinus kunjungi dahulunya menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun setelah Uni Soviet bubar, muncul kebutuhan mendesak atas identitas baru bagi negara-negara ciptaan Stalin tersebut. Hal itu tidaklah mudah dipenuhi setelah sekian lama berinduk ke Moskow. . Oleh karena itu, ditetapkan satu set identitas baru: pahlawan nasional, lagu nasional, bahasa nasional, kitab pedoman nasional, tari nasional, motif tenun nasional... hal-hal bersifat berkebangsaan digali dan didengungkan untuk negeri di era yang baru. Latar belakang sang pengarang yang berdarah Tiongkok namun berpaspor burung Garuda mewarnai pandangannya mengenai kehidupan para penduduk Asia Tengah yang kini berjalan masing-masing. Ia pun membandingkan pencarian akar bangsa Asia Tengah dengan pengalamannya sendiri. Meskipun skalanya jauh berbeda, cukup menarik melihat pemikiran sang pengarang.

Kisah pertama datang dari Tajikistan. Di halaman awal diceritakan bahwa pengarang yang duduk di atas keledai Afganistan memandang iri mobil-mobil yang melintas di atas jalan mulus Tajikistan. Meskipun hanya dipisahkan sungai, jarak kedua negara ini tidak bisa dianggap remeh. Selamat menyeberang ke Tajikistan, ternyata kehidupan di negeri tersebut tidak seindah yang terlihat dari lereng gunung Afganistan. Lepas dari Tajikistan, Agustinus menyeberang ke Kirgiztan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Setiap negara punya cerita masing-masing, ada yang ekonominya morat-marit, ada yang berubah menjadi kapitalis, dan ada pula yang berlagak mampu mencukupi semua kebutuhan sambil memata-matai rakyat.

Kekurangan buku perjalanan ini adalah Agustinus tidak menyertai tanggal perjalanannya saat mencapai suatu daerah. Tidak perlu spesifik, cukup minggu, bulan, dan tahun. Kekurangan lainnya mengenai pembagian penceritaan tentang suatu negara. Pembagian bab sesuai negara memang cukup memudahkan, tetapi kadang-kadang muncul perbandingan antara dua negara atau lebih setelah suatu pemaparan panjang tentang opini sang pengarang. Saya jadi lupa saya sedang berada di bab negara mana. Jujur saja, peta sederhana yang disisipkan pengarang tidak banyak membantu. Setelah membaca satu negara sampai habis, barulah peta tersebut dipahami. Saya sarankan membaca buku ini sambil membuat catatan kecil tentang bab yang sedang dibaca sebelum berlanjut ke bab selanjutnya.

Pada akhirnya Garis Batas adalah sebuah buku yang patut dibaca.





3 butterflies!
Penulisan yang inspiratif dan kisah yang menarik.





Senin, 03 Maret 2014

Review Buku: Liesl & Po oleh Lauren Oliver

Judul: Liesl & Po
Pengarang: Lauren Oliver
Tanggal terbit: April 2013
Penerbit: Mizan Fantasi
Goodreads

Dari Goodreads:
Di hari ketiga setelah kematian ayahnya, Liesl melihat hantu.

Liesl dikurung di loteng oleh sang ibu tiri. Di malam-malam gelap, Liesl menghibur diri dengan menggambar. Lalu, kegelapan di lotengnya menggeliat dan melentur, memunculkan sesosok hantu. Po, yang datang dari Dunia Lain, tempat roh dan hantu berkeliaran di kegelapan yang membentang seluas semesta. Liesl berharap Po bisa menemukan ayahnya di Dunia Lain.

Suatu hari, tak sengaja Will, murid sang Alkemis, menukar kotak berisi sihir terkuat di dunia dengan kotak abu ayah Liesl. Sebuah kesalahan yang menarik dua anak dan satu hantu dalam sebuah petualangan yang menegangkan. Petualangan yang membuat Dunia Lain dan Dunia Nyata bersentuhan dan membuka rahasia-rahasia mengerikan.

Kisah tentang persahabatan dan rasa sepi, keserakahan dan kemurahan hati, kematian dan kehidupan, Lauren Oliver berhasil meramu kisah yang petualangan yang menegangkan sekaligus menghangatkan hati.




Dua orang bocah dan tiga hantu menyelamatkan dunia dari kemuraman abadi, begitulah inti ceritanya. Namun, apa yang membuat buku ini menarik?

Liesl & Po tidak jelas ditempatkan di rentang waktu yang mana dan di belahan Eropa yang mana. Kelas sosial yang terbagi-bagi di masyarakat mengingatkan zaman Victoria, namun adanya banyak cerobong asap dan alat-alat modern mengingatkan era sebelum Perang Dunia Pertama.

Akan tetapi, kita seolah dituntun menyaksikan keajaiban, meskipun kita belum tahu kejaiban apa yang kita nantikan dalam kisah ini.

Liesl dan Po hanya berjuang mengembalikan abu jenazah ayah Liesl ke rumah masa kecil Liesl dahulu, sebuah rumah mungil di tepi danau. Akan tetapi, misi sederhana nyaris tampak mustahil saat mereka tidak punya uang dan dicari-cari banyak pihak.

Gaya bercerita Lauren Oliver dalam buku ini mengingatkan saya akan gaya bercerita Kate DiCamillo dalam Tale of Desperaux. Setiap tokoh punya andil dalam cerita, tak peduli betapa remehnya.

Liesl, Po, dan tokoh-tokoh lain menunjukkan bahwa yang mustahil tampak mungkin ketika semua orang bekerja sama mewujudkan hasrat mereka, terlepas apakah hasrat tersebut berbenturan dengan impian orang lain.






 3 butterflies!
Tidak begitu berkesan, tapi cukup menarik.







Sabtu, 25 Januari 2014

Review Buku: The Railway Children - Anak-Anak Kereta Api oleh E. Nesbit

Judul: The Railway Children - Anak-Anak Kereta Api
Pengarang: E. Nesbit
Tanggal publikasi: Juni 2010
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Roberta, Peter, dan Phyllis hidup bahagia di Vila Edgecombe, tapi mereka tidak menyadari betapa bahagianya mereka sampai sesuatu terjadi... sesuatu yang memaksa mereka menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda.

Ketika Ayah terpaksa pergi beberapa lama, ketiga anak itu bersama Ibu meninggalkan rumah mereka di London dan pindah ke pondok kecil di pedesaan. Anak-anak itu mencari hiburan di stasiun kereta api dekat pondok mereka dan berkawan dengan Pak Perks, portir stasiun, dan bahkan juga dengan Kepala Stasiun. Tapi satu hal tetap merupakan misteri: ke manakah Ayah dan akankah Ayah kembali?





I am glad I bought this book.

Awalnya saya kira buku ini sejalan dengan cerita Nobody's Boy yang juga diterbitkan oleh GPU seri klasik. Tiga anak miskin yang ditinggal oleh Ayahnya pergi entah ke mana lalu sering berkeliaran di stasiun kereta. Untungnya perkiraan saya salah. Buku ini menceritakan tiga orang anak yang dulunya orang menengah-atas menjalani kehidupan orang miskin yang tidak merana-merana amat, meskipun merasa kesepian akibat ditinggal sang ayah secara tiba-tiba.

E. Nesbit menempatkan diri sebagai pihak ketiga, seorang yang tahu segala, tetapi memutuskan untuk bercerita sedikit demi sedikit, layaknya seornag biografer. Mulanya, kita diajak melihat kehidupan sebuah keluarga bahagia yang serba berkecukupan di London. Suatu malam, datang dua orang tamu yang mengajak sang ayah untuk pergi dan sejak itu kehidupan mereka semua berubah.

Buku ini sarat pesan moral, seperti: integritas, kecakapan, dan selalu siap siaga meskipun ketiga anak tersebut bukan anggota pramuka. Sang ibu berusaha keras agar kehidupan ceria anak-anaknya tidak berubah walaupun secara finansial mereka tidak lagi kaya, malah harus berhemat sebisa mungkin.

Banyak peristiwa yang umm... fantastis terjadi di desa tempat mereka tinggal. Meskipun kejadian-kejadian heroik yang diceritakan agak terlalu dramatis, peristiwa-peristiwa tersebut mengundang tawa dan haru para pembaca.








 3 butterflies!
 Direkomendasikan untuk penggemar Enid Blyton.



Review Buku: Bangkok oleh Moemoe Rizal

Judul: Bangkok
Pengarang: Moemoe Rizal
Tanggal Publikasi: 2013
Penerbit: Gagasmedia
Goodreads

Sinopsis dari Godreads:
Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR




Edvan, arsitek ganteng bin narsis mengalami dilema. Setelah bertahun-tahun perang dingin dengan keluarganya, ia diminta berkeliling Kota Bangkok demi mencari lembaran-lembaran jurnal yang telah lama terpencar. Parahnya lagi, tugas itu semacam wasiat sang ibu, orang yang selama ini ia rindukan sekaligus hindari.

Edvan yang tidak tahu apapun mengenai Bangkok, meminta bantuan seorang gadis mantan pramugari untuk menemaninya keliling mencari jurnal. Tidak gratis, Edvan harus membayari semua pengeluaran pencarian itu.

Sudah tahu dong, arah ceritanya ke mana.

Namun, petualangan Edvan rupahnya tidak disangka-sangka. Selain harus menelusuri kenalan ibunya dahulu, Edvan mengalami konflik batin perihal transgender dan pengembangan kota. Apakah selama ini opininya sudah benar?

Pantas tidaknya Bangkok: The Journal dikoleksi, hal itu kembali ke selera masing-masing. Bagi pembaca yang menyukai gaya menulis yang kocak, ringan, dan sarat dialog sehari-hari, buku ini adalah pilihan yang tepat. Saya suka sekali dengan narasi konyol Edvan si cowok narsis penggila kesuksesan.

Sayangnya, ending cerita kurang greget. Konflik awalnya isu A, kok endingnya malah isu B. Selain itu, kertasnya! Saya bingung deh kenapa buku STPC gemar memburamkan kertas agar berkesan "catatan perjalanan". Saya jadi susah membaca tanpa penerangan tambahan kalau cuaca mendung. Akan lebih baik jika kertas tetap berwarna terang dan desain "catatan perjalanan" hanya di bagian pembuka atau halaman judul bab.
 



 3 butterflies!
Berharap mampu memberikan rating empat bintang, tetapi tiga bintang lebih mewakili.

 

Sabtu, 30 November 2013

Review Buku: Emily's Quest oleh L.M. Montgomery

Judul: Emily's Quest
Pengarang: L.M. Montgomery
Tanggal Publikasi: July 1983, first published 1927
Penerbit: Dell Laurel-Leaf
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Emily knows she's going to be a great writer.  She also knows that she and her childhood sweetheart, Teddy Kent, will conquer the world together.  But when Teddy leaves home to pursue his goal to become an artist at the School of Design in Montreal, Emily's world collapses.  With Teddy gone, Emily agrees to marry a man she doesn't love ... as she tries to banish all thoughts of Teddy.  In her heart, Emily must search for what being a writer really means....





This book is full of hardship, ambition, self-denial, and self-doubt, but surpringly Emily's Quest is one of my most favorite books this year!

Sebelum membaca buku ketiga serial Emily, saya sempat melihat-lihat review di goodreads yg memperingatkan bahwa jalan ceritanya akan jauh lebih kelam dan suram dibandingkan kedua buku sebelumnya, apalagi jika dibandingkan dengan Anne of Green Gables . Wah, saya yang anti bacaan depresi jadi agak keder. Namun, setelah iseng membaca chapter pertama Emily's Quest, I was hooked! Saya malah ketagihan dan bahkan curi-curi waktu membaca Emily's Quest sewaktu boarding di pesawat.

Cerita dibuka dengan gambaran Emily yg sudah lulus sekolah dan siap mendaki tangga kesuksesan menjadi penulis tulen. Teddy, sahabat yang notabene cinta pertama Emily, akan pergi jauh untuk menguji bakat melukisnya. Sebelum berangkat, mereka berdua bertemu malam-malam sambil memandang bintang dan berjanji akan saling mengingat satu sama lain setiap kali melihat bintang Vega dari rasi Lira bersinar, tak peduli sejauh apapun jarak memisahkan. So sweet, innocent, and hopeful.

Emily, Teddy, Ilse, dan Perry segera berpisah jalan untuk mengejar mimpi masing-masing. Emily yg memilih menetap di New Moon terus giat menulis cerita, namun ia merasa kesepian. Semua sahabatnya sibuk di lingkaran pergaulan baru dan banyak sekali karya Emily yg ditolak penerbit. Jalan menuju kesuksesan sangat terjal seperti yang dulu diramalkan Miss Royal.

Nah, yg menarik adalah meski Emily terus menerus teringat sosok Teddy (oh, first love), Emily tidak menutup diri. Para kekasih dan calon kekasih datang dan pergi di New Moon, menimbulkan gosip dan reputasi baru bagi Emily. Hebatnya, semua pelamar tidak ada yg biasa-biasa saja. Emily always has fantastic love affairs! Satu keluarga besar cemas setengah mati setiap kali ada cowok yg berniat mendekati Emily.

Akan tetapi, suatu ketika muncul peristiwa tragis yang membuat Emily tidak sanggup menulis dan tertawa sepenuh hati. Saat itulah Dean "Jarback" Priest, bujang lapuk yang selama ini hanya sekadar sahabat berbagi cerita walau selalu menghilang di musim dingin, membawa sesuatu yg mungkin menjadi kebahagiaan Emily. Lalu, bagaimana dengan Teddy yang lama tak ada kabar? Dan mengapa tiba-tiba ada gosip antara Ilse dan Teddy? Terus, apa kabar nasib lamaran Perry yg selama ini selalu ditolak Emily?

Membaca buku ini membuat hati kebat-kebit. L.M. Montgomerry akhirnya membeberkan juga kisah rahasia yg sudah ditahan sejak buku pertama. Jealousy is ugly trait, and possesive lovers should be damned. Ah, si pengarang juga menuturkan pengalaman cintanya dulu sewaktu muda dengan sangat halus melalui momen-momen romantis kecil yg ampuh melelehkan hati dan bikin senyum-senyum sendiri. Bertatapan mata penuh makna di depan perapian, ngobrol santai berdua, menikmati diam yang menyenangkan, dan jaga gengsi padahal rindu setengah mati.... Emily memendam itu semua dalam hatinya. Tidak ada kata-kata cinta terang-terangan dan hanya ada harapan rahasia yang disimpan bertahun-tahun. Arghh... ini nih yg bikin mangkel, tapi juga ketagihan membacanya. Cepet sadar dong, Emily! Raih kebahagiaanmu!

Buku ini memang berhasil memikat saya, namun bukan berati tanpa cacat. The ending ruined it. Sangat terburu-buru, seolah kita tiba-tiba disuruh lari spint setelah berjalan-jalan santai di pantai. There should be two or three more concluding chapters. I mean it. Ending yang diberikan L.M. Montgomerry benar-benar menggoda untuk membayangkan ending versi imajinasi sendiri.

But, afterall, it is a really nice read.

Sekadar catatan, Emily's Quest lebih tepat ditujukan bagi yang sudah tamat SMA, terlebih bagi para fresh graduate karena Emily banyak membicarakan pengalaman pahit-manis mencapai kesuksesan berkarir dan prospek menjadi cat lady di masa tua.

Dan ya, ini memang buku semi-autobiografi L.M. Montgomerry. 





5 butterflies!
Mindblowing! Salah satu favorit saya tahun ini.



Rabu, 25 September 2013

Review Komik: Psychic Detective Yakumo oleh Miyako Ritsu & Manabu Kaminaga


Judul: Psychic Detective Yakumo
Pengarang: Miyako Ritsu (Art) & Manabu Kaminaga (Story)
Tanggal terbit: 2011
Jumlah Volume : 2
Penerbit : M&C!

Sinopsis dari cover buku:
Saitou Yakumo, mahasiswa tahun ke-2 yang wajahnya selalu tidak ramah dan bertindak semaunya. Ucapannya selalu sinis dan penuh sindiran. Dia bisa melihat dan mendengar suara arwah, namun tidak bisa menyucikan mereka agar bisa naik ke dunia selanjutnya. Yakumo menguraikan pesan yang ditinggalkan arwah dan menguak dosa-dosa manusia...




Psychic Detetective Yakumo mengingatkan saya pada kisah “Ghost Hunt” karya Shiho Inada (art) & Fuyumi Ono (story) karena berada dalam genre yang sama, yaitu supranatural thriller, dan diangkat dari light novel. Namun, Yakumo menggunakan setting kampus dan tidak memasukkan tokoh yang masih bersekolah sehingga target pembacanya lebih condong ke usia 15+. Selain itu, Yakumo yang selalu memakai kemeja putih tidak ragu-ragu ganti baju di depan cewek yang bukan pacarnya XD.  

Psychic Detetective Yakumo versi Miyako Ritsu dibuka dengan permintaan Ozawa Haruka kepada Saitou Yakumo untuk menolong seorang temannya yang ditimpa musibah usai bermain uji nyali di sudut bangunan kampus yang angker. Yakumo awalnya tidak telalu antusias, tetapi akhirnya bersedia membantu Haruka memecahkan kasus tersebut dengan menggunakanbakat supranatural dan kemampuan analisisnya yang tajam. Sejak saat itu, Haruka pun meminta Yakumo untuk memecahkan kasus-kasus supranatural lain di sekitar mereka.

Komik ini merupakah salah satu seri yang pantas dikoleksi. Jalan ceritanya mudah diikuti, artworknya rapi, dan tokoh-tokohnya pun menghibur. Yakumo yang dingin dan cuek terpaksa menghadapi Haruka yang terlampau bersemangat menolong orang-orang yang kesusahan akibat dikutuk arwah. Yakumo sendiri punya alasan dia memilih bersikap antisosial. Salah satu matanya yang berwarna merah memiliki kemampuan melihat dan mendengar arwah di mana saja dan kapan saja. Akibatnya, Yakumo selalu bersikap sinis dan cenderung menyendiri akibat kurang percaya pada sifat baik manusia. Untungnya, ada Haruka yang nekat mengajak Yakumo agar bersikap lebih simpatik dan melihat mata merah Yakumo sebagai suatu kelebihan. Selain itu, ada juga tokoh Paman Yakumo dan Detektif Gotou yang selalu mendukung Yakumo, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Menurut saya, dua volume buku ini berisi tiga kasus yang semuanya menarik untuk disimak. Ketiganya memiliki unsur drama, tetapi kasus yang paling membekas di ingatan saya adalah kasus kedua tentang terowongan maut. Arwahnya memiliki mata seram penuh dendam dan sukses bikin bulu kuduk merinding. Beneran deh, komik yang satu ini bukan bacaan sebelum tidur.

Bagi yang penasaran dengan masa lalu Yakumo, boleh tuh ngelirik “Psychic Detective Yakumo: The Alternate Story” hasil goresan pena Suzuka Oda. Dari pengamatan sekilas sih, kelihatannya lebih serius, lebih kelam, dan lebih berdarah-darah.






4 butterflies!
Kisah menegangkan, cowok cool, dan artwork yang rapi. I crave for more volumes!



Kamis, 27 Juni 2013

Review Buku: Gadis Kretek oleh Ratih Kumala

Judul: Gadis Kretek
Pengarang: Ratih Kumala
Tanggal terbit: 23 Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Ringkasan dari cover buku:
Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?



"Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta"

Kalimat yang tertera di sinopsis buku ini pas banget, karena inti kisahnya memang dua hal tersebut: kretek dan cinta. Dimulai dari persaingan generasi pertama merebut hati gadis pujaan di era kemerdekaan, berlanjut pada kisah cinta generasi kedua antara Dasiyah dan Soeraja di era kekacauan G30S PKI, dan akhirnya cerita ditutup di generasi ketiga pada era demokrasi saat para cucu mencari tahu masa lalu Romo dan Eyang mereka.

Dan perekat kisah ketiga generasi tersebut adalah kretek, jantung penggerak perekonomian Kota M. Inilah yang membuat buku ini asyik dibaca: bukan cinta melulu. Ketiga generasi tersebut memiliki benang merah. Keputusan yang diambil generasi pertama bisa jadi merupakan cikal bakal masalah yang dihadapi generasi ketiga.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dari berbagai sudut pandang. Bab pertama adalah sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Romo, sebagai "aku" dan kemudian di bab-bab selanjutnya, sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh. Dengan demikian, pembaca dapat memahami alur cerita dan persepsi berbagai karakter sehingga tidak ada figuran yang menimbulkan kesan "numpang lewat".

Suasana "jadoel" yang dihidupkan Ratih Kumala pun cukup terasa oleh diksi, interaksi para tokoh, dan tentu saja transformasi kretek yang dulunya tingwe alias linting sendiri menjadi kemasan pabrik. Hal yang kurang di buku ini hanya penggambaran tempat tinggal kediaman dan pakaian para tokoh sebagai penegasan cerita, tetapi pembaca cukuplah bisa mengira-ngira.

Selain itu, ada dua hal yang membuat saya mengerutkan dahi. Pertama, terjemahan untuk percakapan dalam bahasa Jawa diletakkan di akhir bab dan bukan dalam bentuk catatan kaki. Saya menebak hal ini dimaksudkan agar kenikmatan membaca tidak menganggu. Akan tetapi, bagi yang tidak bisa berbahasa Jawa (seperti saya), hal tersebut malah merepotkan. Setiap kali saya menemukan percakapan yang tidak saya mengerti, saya perlu mencari keterangan tentang bab sekian di halaman akhir sehingga perlu bolak-balik menandai halaman tertentu.

Kedua, ketika sudah dekat akhir cerita, rasanya seperti film action: agak ngebut dan grasak-grusuk. Hal ini cukup disayangkan karena pace cerita yang tadinya terjaga dengan rapi menjadi sedikit kacau. Rasanya seperti menonton film bagus yang mengalami pemotongan adegan karena waktunya terbatas.

Tetapi gak apa deh, ada bonus ilustrasi merek-merek kretek yang muncul di buku ini! Cakep sekali.





3. 5 butterflies
Hasilnya, 3.5 bintang! Recommended, tapi kemungkinan enggak baca ulang di waktu dekat.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...