Sabtu, 25 Januari 2014

Review Buku: Bangkok oleh Moemoe Rizal

Judul: Bangkok
Pengarang: Moemoe Rizal
Tanggal Publikasi: 2013
Penerbit: Gagasmedia
Goodreads

Sinopsis dari Godreads:
Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR




Edvan, arsitek ganteng bin narsis mengalami dilema. Setelah bertahun-tahun perang dingin dengan keluarganya, ia diminta berkeliling Kota Bangkok demi mencari lembaran-lembaran jurnal yang telah lama terpencar. Parahnya lagi, tugas itu semacam wasiat sang ibu, orang yang selama ini ia rindukan sekaligus hindari.

Edvan yang tidak tahu apapun mengenai Bangkok, meminta bantuan seorang gadis mantan pramugari untuk menemaninya keliling mencari jurnal. Tidak gratis, Edvan harus membayari semua pengeluaran pencarian itu.

Sudah tahu dong, arah ceritanya ke mana.

Namun, petualangan Edvan rupahnya tidak disangka-sangka. Selain harus menelusuri kenalan ibunya dahulu, Edvan mengalami konflik batin perihal transgender dan pengembangan kota. Apakah selama ini opininya sudah benar?

Pantas tidaknya Bangkok: The Journal dikoleksi, hal itu kembali ke selera masing-masing. Bagi pembaca yang menyukai gaya menulis yang kocak, ringan, dan sarat dialog sehari-hari, buku ini adalah pilihan yang tepat. Saya suka sekali dengan narasi konyol Edvan si cowok narsis penggila kesuksesan.

Sayangnya, ending cerita kurang greget. Konflik awalnya isu A, kok endingnya malah isu B. Selain itu, kertasnya! Saya bingung deh kenapa buku STPC gemar memburamkan kertas agar berkesan "catatan perjalanan". Saya jadi susah membaca tanpa penerangan tambahan kalau cuaca mendung. Akan lebih baik jika kertas tetap berwarna terang dan desain "catatan perjalanan" hanya di bagian pembuka atau halaman judul bab.
 



 3 butterflies!
Berharap mampu memberikan rating empat bintang, tetapi tiga bintang lebih mewakili.

 

Jumat, 24 Januari 2014

Rekomendasi Buku Tahun 2014


Mau baca apa ya tahun ini?

Tahun baru, buku baru! Lagi bingung mau baca apa tahun ini? Kebanyakan buku menumpuk ini di rak to-be-read? Mau baca buku yang buat kamu klepek-klepek? Atau buku yang buat adrenalin jadi terpicu kayak habis marathon 10 km? Jangan cemas karena kami sudah menyiapkan daftar buku-buku yang kami rekomendasikan! Tailored to suit all your needs. Di tahun 2014 ini, let's read more! :)

Kami sudah membagi berdasarkan genre buku yang mungkin kalian minati:

Untuk penggemar fantasi:

1. Cruel Beauty oleh Rosamund Hodge

Goodreads | belum diterjemahkan
Terinspirasi dari dongeng-dongeng klasik seperti Beauty and the Beast dan Blue Beard, Cruel Beauty adalah buku yang tepat bagi mereka yang mengharapkan tokoh utama yang cerdas dan alur cerita yang tidak biasa. Recommended terutama bagi fans fairytales retelling. Kisah yang gelap dan tokoh-tokoh yang memikat.

Dari Goodreads: Graceling meets Beauty and the Beast in this sweeping fantasy about one girl's journey to fulfill her destiny and the monster who gets in her way-by stealing her heart.

Based on the classic fairy tale Beauty and the Beast, Cruel Beauty is a dazzling love story about our deepest desires and their power to change our destiny.

Since birth, Nyx has been betrothed to the evil ruler of her kingdom-all because of a foolish bargain struck by her father. And since birth, she has been in training to kill him.



2. Vampire Academy oleh Richelle Mead 

Goodreads | sudah diterjemahkan
Serial asli Amerika yang sudah sangat populer juga di Indonesia. Di dunia VA, ada kasta-kasta tersendiri dalam dunia vampir. Ada Moroi yaitu vampir asli (minum darah, gorgeous appearance), Dhampir yaitu setengah vampir setengah manusia (kebanyakan menjadi bodyguard kaum Moroi), dan strigoi yaitu vampir yang sudah kehilangan akal sehat. Filmnya akan keluar tahun ini lho!

Dari Goodreads: SELAMAT DATANG DI AKADEMI ST. VLADIMIR

Di balik gerbang kokoh Akademi St. Vladimir terdapat rahasia besar. Akademi tersebut bukan sekolah berasrama biasa. Di tempat itu para vampir Moroi dididik dengan ilmu sihir, sementara para Dhampir—makhluk setengah vampir setengah manusia—dilatih untuk melindungi mereka.

Rose Hathaway adalah Dhampir yang bertugas melindungi sahabat karibnya, Lissa, seorang putri vampir dari kaum Moroi. Selama dua tahun mereka melarikan diri. Namun akhirnya mereka tertangkap lalu diseret kembali ke Akademi Vampir tersebut—yang sebenarnya merupakan tempat paling berbahaya...



3. The Night Circus oleh Erin Morgenstern

Goodreads | sudah diterjemahkan
Gee, this woman knows how to write. Kisah fantasi tentang sirkus yang menawarkan keajaiban setiap malamnya. Alurnya yang maju mundur mengharuskan konsentrasi penuh dari pembacanya. Sudah diterjemahkan, tapi secara pribadi kami lebih menyarankan versi Bahasa Inggrisnya. The author's writing is just, too beautiful too pass.


Dari Goodreads: Bersiaplah memasuki Le Cirque des Rêves. Jangan terlalu terkejut karena sirkus ini bukanlah sirkus biasa. Di sini kau bisa menemukan Labirin Awan, khayalan-khayalan yang menjadi kenyataan, sari apel terlezat di dunia, Pohon Permohonan, dan wanita cantik dengan gaun penuh untaian surat cinta.

Dalam Le Cirque des Rêves pula, Prospero sang Pesulap menjadikan Celia, putrinya sendiri, sebagai ajang taruhan. Prospero mengharuskan Celia untuk bertarung dengan Marco Alisdair, yang merupakan murid dari musuh bebuyutan sang Pesulap. Selama bertahun-tahun, Celia dan Marco berusaha saling menjatuhkan lewat berbagai wahana dan atraksi mendebarkan: panggung ilusi, raven, selubung sihir, api unggun seputih salju, dan binatang-binatang dari kertas.

Namun, kompetisi itu terhambat saat mereka perlahan-lahan saling jatuh cinta. Dan keduanya semakin kewalahan saat sesuatu yang jahat mulai mencelakai, bahkan membunuh orang-orang di sirkus, satu demi satu ....

 
 
Untuk penggemar dystopia (dunia masa depan yang hancur, kebalikan utopia):

Minggu, 01 Desember 2013

Books, Diamonds, and Things I Bought Last Week #1


Books, Diamonds, and Things I Bought Last Week adalah post di mana Hilda dan Farisa menunjukkan buku-buku yang dibeli/dipinjam/dirampok minggu lalu. Ini adalah regular blog feature setiap satu atau dua minggu sekali, tergantung mood penulis dan isi dompet.

Happy Sunday! Minggu adalah hari favorit saya. Selain Sabtu (yang juga libur), dan hari-hari liburan tentunya! :P Oke, langsung ke buku-buku yang saya dan Kak Farisa beli/pinjam/rampok bulan ini:

(klik di judul akan membawa ke halaman Goodreads bukunya)


Pearl of China oleh Anchee Min
Katalis (Catalyst) oleh Laurie Halse Anderson
Anna and the French Kiss oleh Stephanie Perkins
Just One Year oleh Gayle Forman







Phew! Lumayan banyak mengingat ini adalah stok buku selama sebulan. Komik yang ditunjukkan di feature ini cuma komik yang kami suka dan mungkin akan direview nanti. Saat ini saya sedang membaca Goodbye, Rebel Blue. Alasan awal baca: COVERNYA OMG SO BEAUTIFUL. Kak Farisa lagi baca Liesl and Po dari pengarang yang sama yang membuat Delirium. Ada yang udah baca Delirium? Somehow saya enggak cocok dengan buku-buku pengarang itu meskipun review-review lain memuji-mujinya, :P

On a side note, hari ini saya mau ke JGTC (Jazz Goes to Campus) UI. So excited! Kalau ada yang mau ketemu dan minta tanda tangan (jiaaah-siapa-elu-Hilda ditimpukinmassa.jpg), bisa ketemu di sana haha. YAYYYY for Depapepe! Semoga mereka enggak muncul malam banget kayak jam 1 pagi (yaa dikira mau ngalahin makhluk dunia lain). Bisa-bisa saya berakhir meringkuk di luar gerbang kostan gara-gara udah dikunci hahaha.



Sabtu, 30 November 2013

Review Buku: Emily's Quest oleh L.M. Montgomery

Judul: Emily's Quest
Pengarang: L.M. Montgomery
Tanggal Publikasi: July 1983, first published 1927
Penerbit: Dell Laurel-Leaf
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Emily knows she's going to be a great writer.  She also knows that she and her childhood sweetheart, Teddy Kent, will conquer the world together.  But when Teddy leaves home to pursue his goal to become an artist at the School of Design in Montreal, Emily's world collapses.  With Teddy gone, Emily agrees to marry a man she doesn't love ... as she tries to banish all thoughts of Teddy.  In her heart, Emily must search for what being a writer really means....





This book is full of hardship, ambition, self-denial, and self-doubt, but surpringly Emily's Quest is one of my most favorite books this year!

Sebelum membaca buku ketiga serial Emily, saya sempat melihat-lihat review di goodreads yg memperingatkan bahwa jalan ceritanya akan jauh lebih kelam dan suram dibandingkan kedua buku sebelumnya, apalagi jika dibandingkan dengan Anne of Green Gables . Wah, saya yang anti bacaan depresi jadi agak keder. Namun, setelah iseng membaca chapter pertama Emily's Quest, I was hooked! Saya malah ketagihan dan bahkan curi-curi waktu membaca Emily's Quest sewaktu boarding di pesawat.

Cerita dibuka dengan gambaran Emily yg sudah lulus sekolah dan siap mendaki tangga kesuksesan menjadi penulis tulen. Teddy, sahabat yang notabene cinta pertama Emily, akan pergi jauh untuk menguji bakat melukisnya. Sebelum berangkat, mereka berdua bertemu malam-malam sambil memandang bintang dan berjanji akan saling mengingat satu sama lain setiap kali melihat bintang Vega dari rasi Lira bersinar, tak peduli sejauh apapun jarak memisahkan. So sweet, innocent, and hopeful.

Emily, Teddy, Ilse, dan Perry segera berpisah jalan untuk mengejar mimpi masing-masing. Emily yg memilih menetap di New Moon terus giat menulis cerita, namun ia merasa kesepian. Semua sahabatnya sibuk di lingkaran pergaulan baru dan banyak sekali karya Emily yg ditolak penerbit. Jalan menuju kesuksesan sangat terjal seperti yang dulu diramalkan Miss Royal.

Nah, yg menarik adalah meski Emily terus menerus teringat sosok Teddy (oh, first love), Emily tidak menutup diri. Para kekasih dan calon kekasih datang dan pergi di New Moon, menimbulkan gosip dan reputasi baru bagi Emily. Hebatnya, semua pelamar tidak ada yg biasa-biasa saja. Emily always has fantastic love affairs! Satu keluarga besar cemas setengah mati setiap kali ada cowok yg berniat mendekati Emily.

Akan tetapi, suatu ketika muncul peristiwa tragis yang membuat Emily tidak sanggup menulis dan tertawa sepenuh hati. Saat itulah Dean "Jarback" Priest, bujang lapuk yang selama ini hanya sekadar sahabat berbagi cerita walau selalu menghilang di musim dingin, membawa sesuatu yg mungkin menjadi kebahagiaan Emily. Lalu, bagaimana dengan Teddy yang lama tak ada kabar? Dan mengapa tiba-tiba ada gosip antara Ilse dan Teddy? Terus, apa kabar nasib lamaran Perry yg selama ini selalu ditolak Emily?

Membaca buku ini membuat hati kebat-kebit. L.M. Montgomerry akhirnya membeberkan juga kisah rahasia yg sudah ditahan sejak buku pertama. Jealousy is ugly trait, and possesive lovers should be damned. Ah, si pengarang juga menuturkan pengalaman cintanya dulu sewaktu muda dengan sangat halus melalui momen-momen romantis kecil yg ampuh melelehkan hati dan bikin senyum-senyum sendiri. Bertatapan mata penuh makna di depan perapian, ngobrol santai berdua, menikmati diam yang menyenangkan, dan jaga gengsi padahal rindu setengah mati.... Emily memendam itu semua dalam hatinya. Tidak ada kata-kata cinta terang-terangan dan hanya ada harapan rahasia yang disimpan bertahun-tahun. Arghh... ini nih yg bikin mangkel, tapi juga ketagihan membacanya. Cepet sadar dong, Emily! Raih kebahagiaanmu!

Buku ini memang berhasil memikat saya, namun bukan berati tanpa cacat. The ending ruined it. Sangat terburu-buru, seolah kita tiba-tiba disuruh lari spint setelah berjalan-jalan santai di pantai. There should be two or three more concluding chapters. I mean it. Ending yang diberikan L.M. Montgomerry benar-benar menggoda untuk membayangkan ending versi imajinasi sendiri.

But, afterall, it is a really nice read.

Sekadar catatan, Emily's Quest lebih tepat ditujukan bagi yang sudah tamat SMA, terlebih bagi para fresh graduate karena Emily banyak membicarakan pengalaman pahit-manis mencapai kesuksesan berkarir dan prospek menjadi cat lady di masa tua.

Dan ya, ini memang buku semi-autobiografi L.M. Montgomerry. 





5 butterflies!
Mindblowing! Salah satu favorit saya tahun ini.



Selasa, 26 November 2013

Movie Review: The Hunger Games: Catching Fire




Saya mungkin salah satu orang ter-excited di dunia akan rilisnya Catching Fire. *lebay mode on*

Karena OMG! OMG! Catching Fire! Peeta and Katniss! Capitol fashion couture! Finnick! Finnick!! FINNICK NOW MOVE AWAY EVERYBODY LEMME GET MA BOY.


Finnick and his infamous sugar cube scene ;)
 Er, maaf. Sulit menahan fangirl pada Finnick, salah satu karakter utama yang diperkenalkan pada instalasi kedua The Hunger Games ini. When you meet Finnick, you’ll get why I’m so head over heels over him. ;)

Anyways, Catching Fire adalah film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun 2013. Apalagi karena film ini sendiri dirilis satu setengah tahun dari premiere film pertamanya, The Hunger Games. Saya adalah penggemar berat trilogi The Hunger Games, dan saya terutama harap-harap-cemas melihat apakah Catching Fire akan menjadi adaptasi yang se-hype dan seluarbiasa film pertamanya.

Catching Fire menceritakan kelanjutan hidup Katniss Everdeen setelah kemenangan dirinya dan Peeta Mellark di kompetisi bertahan hidup The Hunger Games. Tur kemenangan yang dijalaninya bersama Peeta membawa mereka berkunjung ke distrik-distrik lain, di mana Katniss mulai menyadari adanya keresahan dan pemberontakan di distrik-distrik akan pemerintah ibukota, Capitol. Selain pemberontakan distrik-distrik yang semakin memanas, Katniss juga dihadapkan dengan dilema hubungan asmaranya antara Peeta dan Gale, sahabat baik sekaligus teman berburunya. 


Salah satu scene favorit saya. I dare you not to cry!
 Pertama-tama, aplaus untuk sang sutradara Francis Lawrence karena telah mempersembahkan film penuh aksi yang menegangkan. Sejujurnya saya pikir adaptasi film Catching Fire lebih banyak aksinya dibandingkan bukunya sendiri. Saya terutama menikmati tur kemenangan yang dijalani Katniss dan Peeta, karena setting kereta dan distrik-distrik yang luar biasa, serta atmosfer mencekam yang begitu terasa. Saya pikir, tidak berlebihan mengatakan bahwa Jennifer Lawrence adalah Katniss Everdeen. Jennifer dapat dengan memukau menampilkan berbagai sisi Katniss – bagaimana Katniss begitu garang melindungi keluarganya, maupun sisi lemah Katniss ketika bingung dan hilang kendali.

Saya sangat menyukai baju-baju yang dikenakan oleh para pemain di film ini. Fans The Hunger Games pasti mengetahui adanya Capitol Couture, yaitu fashion line bagi para warga Capitol di dunia The Hunger Games. Fashion Capitol Couture sendiri unik dan cenderung berlebihan, tetapi tetap memiliki keindahan yang saya kagumi. Sedikit mengingatkan saya pada baju-baju yang dikenakan oleh Lady Gaga. ;) 




Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan satu hal: TONTON FILM INI. Karena The Hunger Games is sooo sooo sooo awesome, and Catching Fire is just as awesome. Aaaah menderita sekali rasanya harus menunggu setahun lagi sebelum menonton Mockingjay: Part 1. Tidak sabar menunggu bagaimana sang sutradara akan mewujudkan konflik politik berdarah ke layar film, apalagi menampilkan Katniss yang hilang arah dan depresi di Mockingjay.

PS: Saya Team Peeta. Forever and after. ♥ 









Rabu, 25 September 2013

Review Buku: Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti

Judul: Pintu Harmonika
Pengarang: Clara Ng dan Icha Rahmanti
Tahun Terbit: Maret 2013
Penerbit: PlotPoint
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?





Saya suka novel-novel karya Clara Ng. Indiana Chronicles, Tiga Venus – you name it. Saya menyukai humornya yang menghibur, gaya bahasanya yang lugas tapi tetap ngena, dan karakterisasi yang kuat di setiap tokohnya. Tidak dapat dipungkiri, Pintu Harmonika adalah buku yang mendapatkan ekspektasi tinggi dari saya. Kehadiran co-author Icha Rahmanti membuat saya berharap akan membawa angin segar dalam buku tersebut.

Pintu Harmonika bercerita tentang Rizal, Juni, dan David – trio yang disatukan dengan Surga, sepetak tanah lapanng di belakang ruko tempat mereka tinggal. Surga hanyalah tanah lapang biasa, dengan reruntuhan batu bata, hiasan graffiti tak jelas, dan bahkan sedikit bau pesing, akan tetapi itu adalah tempat ketiga trio berbeda umur itu menemukan pelarian kecil dari kepenatan di hidup mereka. Namun ketika surga akan dijual, mampukah mereka mencari cara untuk mempertahankan oasis kecil mereka tersebut?

Pintu Harmonika adalah kisah yang orisinil, ringan, dan untuk semua kalangan usia. Akan tetapi, Pintu Harmonika juga membuat saya terpaksa mengakui bahwa terkadang, penulis favorit juga dapat membuat cerita yang tidak spektakuler. Buku ini begitu berbeda dari ekspektasi awal saya. Saya mengharapkan kisah persahabatan yang menyentuh, diselimuti perjuangan mempertahankan Surga sebagai oasis mereka, akan tetapi yang saya dapatkan adalah tiga serpihan cerita yang seakan dengan setengah hati disatukan dalam satu buku. Persahabatan dan ikatan di antara ketiga sahabat tersebut tidak terlalu kentara, sehingga bagian yang seharusnya lebih mengharu biru tidak terlalu berhasil menyentuh hati saya.

Pintu Harmonika jelas bukan buku yang jelek, dengan karakterisasi tokoh yang kuat dan pesannya yang tidak terkesan menggurui sama sekali, namun kisahnya sendiri tidaklah termasuk memorable untuk saya. Bagian favorit saya di buku ini mungkin permasalahan nyata yang dihadapi setiap tokohnya, dan ilustrasi indah yang menghiasi buku ini. Cerita ketiga di buku ini, David, terlalu ganjil untuk selera saya dan membuat saya mengerutkan dahi ketika menutup buku itu.

Ringan dengan kisah yang cukup menghibur, Pintu Harmonika adalah pilihan yang sesuai untuk one-sitting-read.




3 butterflies!
 Gaya penulisannya enak dan mudah dibaca, tapi ceritanya tidak cukup memorable.


PS: Kaget karena kakak tercinta Farisa sudah review juga di Goodreads. Ya mbok reviewnya dipindah ke blog Bambi Sisters.

Review Komik: Psychic Detective Yakumo oleh Miyako Ritsu & Manabu Kaminaga


Judul: Psychic Detective Yakumo
Pengarang: Miyako Ritsu (Art) & Manabu Kaminaga (Story)
Tanggal terbit: 2011
Jumlah Volume : 2
Penerbit : M&C!

Sinopsis dari cover buku:
Saitou Yakumo, mahasiswa tahun ke-2 yang wajahnya selalu tidak ramah dan bertindak semaunya. Ucapannya selalu sinis dan penuh sindiran. Dia bisa melihat dan mendengar suara arwah, namun tidak bisa menyucikan mereka agar bisa naik ke dunia selanjutnya. Yakumo menguraikan pesan yang ditinggalkan arwah dan menguak dosa-dosa manusia...




Psychic Detetective Yakumo mengingatkan saya pada kisah Ghost Hunt karya Shiho Inada (art) & Fuyumi Ono (story) karena berada dalam genre yang sama, yaitu supranatural thriller, dan diangkat dari light novel. Namun, Yakumo menggunakan setting kampus dan tidak memasukkan tokoh yang masih bersekolah sehingga target pembacanya lebih condong ke usia 15+. Selain itu, Yakumo yang selalu memakai kemeja putih tidak ragu-ragu ganti baju di depan cewek yang bukan pacarnya XD.  

Psychic Detetective Yakumo versi Miyako Ritsu dibuka dengan permintaan Ozawa Haruka kepada Saitou Yakumo untuk menolong seorang temannya yang ditimpa musibah usai bermain uji nyali di sudut bangunan kampus yang angker. Yakumo awalnya tidak telalu antusias, tetapi akhirnya bersedia membantu Haruka memecahkan kasus tersebut dengan menggunakanbakat supranatural dan kemampuan analisisnya yang tajam. Sejak saat itu, Haruka pun meminta Yakumo untuk memecahkan kasus-kasus supranatural lain di sekitar mereka.

Komik ini merupakah salah satu seri yang pantas dikoleksi. Jalan ceritanya mudah diikuti, artworknya rapi, dan tokoh-tokohnya pun menghibur. Yakumo yang dingin dan cuek terpaksa menghadapi Haruka yang terlampau bersemangat menolong orang-orang yang kesusahan akibat dikutuk arwah. Yakumo sendiri punya alasan dia memilih bersikap antisosial. Salah satu matanya yang berwarna merah memiliki kemampuan melihat dan mendengar arwah di mana saja dan kapan saja. Akibatnya, Yakumo selalu bersikap sinis dan cenderung menyendiri akibat kurang percaya pada sifat baik manusia. Untungnya, ada Haruka yang nekat mengajak Yakumo agar bersikap lebih simpatik dan melihat mata merah Yakumo sebagai suatu kelebihan. Selain itu, ada juga tokoh Paman Yakumo dan Detektif Gotou yang selalu mendukung Yakumo, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Menurut saya, dua volume buku ini berisi tiga kasus yang semuanya menarik untuk disimak. Ketiganya memiliki unsur drama, tetapi kasus yang paling membekas di ingatan saya adalah kasus kedua tentang terowongan maut. Arwahnya memiliki mata seram penuh dendam dan sukses bikin bulu kuduk merinding. Beneran deh, komik yang satu ini bukan bacaan sebelum tidur.

Bagi yang penasaran dengan masa lalu Yakumo, boleh tuh ngelirik Psychic Detective Yakumo: The Alternate Story hasil goresan pena Suzuka Oda. Dari pengamatan sekilas sih, kelihatannya lebih serius, lebih kelam, dan lebih berdarah-darah.






4 butterflies!
Kisah menegangkan, cowok cool, dan artwork yang rapi. I crave for more volumes!



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...