Minggu, 01 Desember 2013

Books, Diamonds, and Things I Bought Last Week #1


Books, Diamonds, and Things I Bought Last Week adalah post di mana Hilda dan Farisa menunjukkan buku-buku yang dibeli/dipinjam/dirampok minggu lalu. Ini adalah regular blog feature setiap satu atau dua minggu sekali, tergantung mood penulis dan isi dompet.

Happy Sunday! Minggu adalah hari favorit saya. Selain Sabtu (yang juga libur), dan hari-hari liburan tentunya! :P Oke, langsung ke buku-buku yang saya dan Kak Farisa beli/pinjam/rampok bulan ini:

(klik di judul akan membawa ke halaman Goodreads bukunya)


Pearl of China oleh Anchee Min
Katalis (Catalyst) oleh Laurie Halse Anderson
Anna and the French Kiss oleh Stephanie Perkins
Just One Year oleh Gayle Forman







Phew! Lumayan banyak mengingat ini adalah stok buku selama sebulan. Komik yang ditunjukkan di feature ini cuma komik yang kami suka dan mungkin akan direview nanti. Saat ini saya sedang membaca Goodbye, Rebel Blue. Alasan awal baca: COVERNYA OMG SO BEAUTIFUL. Kak Farisa lagi baca Liesl and Po dari pengarang yang sama yang membuat Delirium. Ada yang udah baca Delirium? Somehow saya enggak cocok dengan buku-buku pengarang itu meskipun review-review lain memuji-mujinya, :P

On a side note, hari ini saya mau ke JGTC (Jazz Goes to Campus) UI. So excited! Kalau ada yang mau ketemu dan minta tanda tangan (jiaaah-siapa-elu-Hilda ditimpukinmassa.jpg), bisa ketemu di sana haha. YAYYYY for Depapepe! Semoga mereka enggak muncul malam banget kayak jam 1 pagi (yaa dikira mau ngalahin makhluk dunia lain). Bisa-bisa saya berakhir meringkuk di luar gerbang kostan gara-gara udah dikunci hahaha.



Sabtu, 30 November 2013

Review Buku: Emily's Quest oleh L.M. Montgomery

Judul: Emily's Quest
Pengarang: L.M. Montgomery
Tanggal Publikasi: July 1983, first published 1927
Penerbit: Dell Laurel-Leaf
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Emily knows she's going to be a great writer.  She also knows that she and her childhood sweetheart, Teddy Kent, will conquer the world together.  But when Teddy leaves home to pursue his goal to become an artist at the School of Design in Montreal, Emily's world collapses.  With Teddy gone, Emily agrees to marry a man she doesn't love ... as she tries to banish all thoughts of Teddy.  In her heart, Emily must search for what being a writer really means....





This book is full of hardship, ambition, self-denial, and self-doubt, but surpringly Emily's Quest is one of my most favorite books this year!

Sebelum membaca buku ketiga serial Emily, saya sempat melihat-lihat review di goodreads yg memperingatkan bahwa jalan ceritanya akan jauh lebih kelam dan suram dibandingkan kedua buku sebelumnya, apalagi jika dibandingkan dengan Anne of Green Gables . Wah, saya yang anti bacaan depresi jadi agak keder. Namun, setelah iseng membaca chapter pertama Emily's Quest, I was hooked! Saya malah ketagihan dan bahkan curi-curi waktu membaca Emily's Quest sewaktu boarding di pesawat.

Cerita dibuka dengan gambaran Emily yg sudah lulus sekolah dan siap mendaki tangga kesuksesan menjadi penulis tulen. Teddy, sahabat yang notabene cinta pertama Emily, akan pergi jauh untuk menguji bakat melukisnya. Sebelum berangkat, mereka berdua bertemu malam-malam sambil memandang bintang dan berjanji akan saling mengingat satu sama lain setiap kali melihat bintang Vega dari rasi Lira bersinar, tak peduli sejauh apapun jarak memisahkan. So sweet, innocent, and hopeful.

Emily, Teddy, Ilse, dan Perry segera berpisah jalan untuk mengejar mimpi masing-masing. Emily yg memilih menetap di New Moon terus giat menulis cerita, namun ia merasa kesepian. Semua sahabatnya sibuk di lingkaran pergaulan baru dan banyak sekali karya Emily yg ditolak penerbit. Jalan menuju kesuksesan sangat terjal seperti yang dulu diramalkan Miss Royal.

Nah, yg menarik adalah meski Emily terus menerus teringat sosok Teddy (oh, first love), Emily tidak menutup diri. Para kekasih dan calon kekasih datang dan pergi di New Moon, menimbulkan gosip dan reputasi baru bagi Emily. Hebatnya, semua pelamar tidak ada yg biasa-biasa saja. Emily always has fantastic love affairs! Satu keluarga besar cemas setengah mati setiap kali ada cowok yg berniat mendekati Emily.

Akan tetapi, suatu ketika muncul peristiwa tragis yang membuat Emily tidak sanggup menulis dan tertawa sepenuh hati. Saat itulah Dean "Jarback" Priest, bujang lapuk yang selama ini hanya sekadar sahabat berbagi cerita walau selalu menghilang di musim dingin, membawa sesuatu yg mungkin menjadi kebahagiaan Emily. Lalu, bagaimana dengan Teddy yang lama tak ada kabar? Dan mengapa tiba-tiba ada gosip antara Ilse dan Teddy? Terus, apa kabar nasib lamaran Perry yg selama ini selalu ditolak Emily?

Membaca buku ini membuat hati kebat-kebit. L.M. Montgomerry akhirnya membeberkan juga kisah rahasia yg sudah ditahan sejak buku pertama. Jealousy is ugly trait, and possesive lovers should be damned. Ah, si pengarang juga menuturkan pengalaman cintanya dulu sewaktu muda dengan sangat halus melalui momen-momen romantis kecil yg ampuh melelehkan hati dan bikin senyum-senyum sendiri. Bertatapan mata penuh makna di depan perapian, ngobrol santai berdua, menikmati diam yang menyenangkan, dan jaga gengsi padahal rindu setengah mati.... Emily memendam itu semua dalam hatinya. Tidak ada kata-kata cinta terang-terangan dan hanya ada harapan rahasia yang disimpan bertahun-tahun. Arghh... ini nih yg bikin mangkel, tapi juga ketagihan membacanya. Cepet sadar dong, Emily! Raih kebahagiaanmu!

Buku ini memang berhasil memikat saya, namun bukan berati tanpa cacat. The ending ruined it. Sangat terburu-buru, seolah kita tiba-tiba disuruh lari spint setelah berjalan-jalan santai di pantai. There should be two or three more concluding chapters. I mean it. Ending yang diberikan L.M. Montgomerry benar-benar menggoda untuk membayangkan ending versi imajinasi sendiri.

But, afterall, it is a really nice read.

Sekadar catatan, Emily's Quest lebih tepat ditujukan bagi yang sudah tamat SMA, terlebih bagi para fresh graduate karena Emily banyak membicarakan pengalaman pahit-manis mencapai kesuksesan berkarir dan prospek menjadi cat lady di masa tua.

Dan ya, ini memang buku semi-autobiografi L.M. Montgomerry. 





5 butterflies!
Mindblowing! Salah satu favorit saya tahun ini.



Selasa, 26 November 2013

Movie Review: The Hunger Games: Catching Fire




Saya mungkin salah satu orang ter-excited di dunia akan rilisnya Catching Fire. *lebay mode on*

Karena OMG! OMG! Catching Fire! Peeta and Katniss! Capitol fashion couture! Finnick! Finnick!! FINNICK NOW MOVE AWAY EVERYBODY LEMME GET MA BOY.


Finnick and his infamous sugar cube scene ;)
 Er, maaf. Sulit menahan fangirl pada Finnick, salah satu karakter utama yang diperkenalkan pada instalasi kedua The Hunger Games ini. When you meet Finnick, you’ll get why I’m so head over heels over him. ;)

Anyways, Catching Fire adalah film yang paling saya tunggu-tunggu di tahun 2013. Apalagi karena film ini sendiri dirilis satu setengah tahun dari premiere film pertamanya, The Hunger Games. Saya adalah penggemar berat trilogi The Hunger Games, dan saya terutama harap-harap-cemas melihat apakah Catching Fire akan menjadi adaptasi yang se-hype dan seluarbiasa film pertamanya.

Catching Fire menceritakan kelanjutan hidup Katniss Everdeen setelah kemenangan dirinya dan Peeta Mellark di kompetisi bertahan hidup The Hunger Games. Tur kemenangan yang dijalaninya bersama Peeta membawa mereka berkunjung ke distrik-distrik lain, di mana Katniss mulai menyadari adanya keresahan dan pemberontakan di distrik-distrik akan pemerintah ibukota, Capitol. Selain pemberontakan distrik-distrik yang semakin memanas, Katniss juga dihadapkan dengan dilema hubungan asmaranya antara Peeta dan Gale, sahabat baik sekaligus teman berburunya. 


Salah satu scene favorit saya. I dare you not to cry!
 Pertama-tama, aplaus untuk sang sutradara Francis Lawrence karena telah mempersembahkan film penuh aksi yang menegangkan. Sejujurnya saya pikir adaptasi film Catching Fire lebih banyak aksinya dibandingkan bukunya sendiri. Saya terutama menikmati tur kemenangan yang dijalani Katniss dan Peeta, karena setting kereta dan distrik-distrik yang luar biasa, serta atmosfer mencekam yang begitu terasa. Saya pikir, tidak berlebihan mengatakan bahwa Jennifer Lawrence adalah Katniss Everdeen. Jennifer dapat dengan memukau menampilkan berbagai sisi Katniss – bagaimana Katniss begitu garang melindungi keluarganya, maupun sisi lemah Katniss ketika bingung dan hilang kendali.

Saya sangat menyukai baju-baju yang dikenakan oleh para pemain di film ini. Fans The Hunger Games pasti mengetahui adanya Capitol Couture, yaitu fashion line bagi para warga Capitol di dunia The Hunger Games. Fashion Capitol Couture sendiri unik dan cenderung berlebihan, tetapi tetap memiliki keindahan yang saya kagumi. Sedikit mengingatkan saya pada baju-baju yang dikenakan oleh Lady Gaga. ;) 




Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan satu hal: TONTON FILM INI. Karena The Hunger Games is sooo sooo sooo awesome, and Catching Fire is just as awesome. Aaaah menderita sekali rasanya harus menunggu setahun lagi sebelum menonton Mockingjay: Part 1. Tidak sabar menunggu bagaimana sang sutradara akan mewujudkan konflik politik berdarah ke layar film, apalagi menampilkan Katniss yang hilang arah dan depresi di Mockingjay.

PS: Saya Team Peeta. Forever and after. ♥ 









Rabu, 25 September 2013

Review Buku: Pintu Harmonika oleh Clara Ng dan Icha Rahmanti

Judul: Pintu Harmonika
Pengarang: Clara Ng dan Icha Rahmanti
Tahun Terbit: Maret 2013
Penerbit: PlotPoint
Goodreads

Sinopsis dari Goodreads:
Dijual cepat: S U R G A!

Punyakah kamu surga di Bumi, tempatmu merasa bebas, terlindungi dan… begitu bahagia hanya dengan berada di situ?

Rizal, Juni, dan David menemukan surga lewat ketidaksengajaan; Buka pintu harmonika, berjalan mengikuti sinar matahari, dan temukan surga. Surga yang tersembunyi di belakang ruko tempat tinggal mereka.

Walau mereka berbeda usia dan tidak juga lantas bermain bersama, surga membuat mereka menemukan bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dan keluarga. Ketika surga mereka akan berakhir, semangat mempertahankannya membawa mereka pada sebuah petualangan lewat tengah malam. Apa pula hubungannya dengan pencitraan Rizal, masalah Juni di sekolah dan bulu hitam misterius yang berpendar cantik temuan David serta suara-suara misterius di atap rukonya?





Saya suka novel-novel karya Clara Ng. Indiana Chronicles, Tiga Venus – you name it. Saya menyukai humornya yang menghibur, gaya bahasanya yang lugas tapi tetap ngena, dan karakterisasi yang kuat di setiap tokohnya. Tidak dapat dipungkiri, Pintu Harmonika adalah buku yang mendapatkan ekspektasi tinggi dari saya. Kehadiran co-author Icha Rahmanti membuat saya berharap akan membawa angin segar dalam buku tersebut.

Pintu Harmonika bercerita tentang Rizal, Juni, dan David – trio yang disatukan dengan Surga, sepetak tanah lapanng di belakang ruko tempat mereka tinggal. Surga hanyalah tanah lapang biasa, dengan reruntuhan batu bata, hiasan graffiti tak jelas, dan bahkan sedikit bau pesing, akan tetapi itu adalah tempat ketiga trio berbeda umur itu menemukan pelarian kecil dari kepenatan di hidup mereka. Namun ketika surga akan dijual, mampukah mereka mencari cara untuk mempertahankan oasis kecil mereka tersebut?

Pintu Harmonika adalah kisah yang orisinil, ringan, dan untuk semua kalangan usia. Akan tetapi, Pintu Harmonika juga membuat saya terpaksa mengakui bahwa terkadang, penulis favorit juga dapat membuat cerita yang tidak spektakuler. Buku ini begitu berbeda dari ekspektasi awal saya. Saya mengharapkan kisah persahabatan yang menyentuh, diselimuti perjuangan mempertahankan Surga sebagai oasis mereka, akan tetapi yang saya dapatkan adalah tiga serpihan cerita yang seakan dengan setengah hati disatukan dalam satu buku. Persahabatan dan ikatan di antara ketiga sahabat tersebut tidak terlalu kentara, sehingga bagian yang seharusnya lebih mengharu biru tidak terlalu berhasil menyentuh hati saya.

Pintu Harmonika jelas bukan buku yang jelek, dengan karakterisasi tokoh yang kuat dan pesannya yang tidak terkesan menggurui sama sekali, namun kisahnya sendiri tidaklah termasuk memorable untuk saya. Bagian favorit saya di buku ini mungkin permasalahan nyata yang dihadapi setiap tokohnya, dan ilustrasi indah yang menghiasi buku ini. Cerita ketiga di buku ini, David, terlalu ganjil untuk selera saya dan membuat saya mengerutkan dahi ketika menutup buku itu.

Ringan dengan kisah yang cukup menghibur, Pintu Harmonika adalah pilihan yang sesuai untuk one-sitting-read.




3 butterflies!
 Gaya penulisannya enak dan mudah dibaca, tapi ceritanya tidak cukup memorable.


PS: Kaget karena kakak tercinta Farisa sudah review juga di Goodreads. Ya mbok reviewnya dipindah ke blog Bambi Sisters.

Review Komik: Psychic Detective Yakumo oleh Miyako Ritsu & Manabu Kaminaga


Judul: Psychic Detective Yakumo
Pengarang: Miyako Ritsu (Art) & Manabu Kaminaga (Story)
Tanggal terbit: 2011
Jumlah Volume : 2
Penerbit : M&C!

Sinopsis dari cover buku:
Saitou Yakumo, mahasiswa tahun ke-2 yang wajahnya selalu tidak ramah dan bertindak semaunya. Ucapannya selalu sinis dan penuh sindiran. Dia bisa melihat dan mendengar suara arwah, namun tidak bisa menyucikan mereka agar bisa naik ke dunia selanjutnya. Yakumo menguraikan pesan yang ditinggalkan arwah dan menguak dosa-dosa manusia...




Psychic Detetective Yakumo mengingatkan saya pada kisah Ghost Hunt karya Shiho Inada (art) & Fuyumi Ono (story) karena berada dalam genre yang sama, yaitu supranatural thriller, dan diangkat dari light novel. Namun, Yakumo menggunakan setting kampus dan tidak memasukkan tokoh yang masih bersekolah sehingga target pembacanya lebih condong ke usia 15+. Selain itu, Yakumo yang selalu memakai kemeja putih tidak ragu-ragu ganti baju di depan cewek yang bukan pacarnya XD.  

Psychic Detetective Yakumo versi Miyako Ritsu dibuka dengan permintaan Ozawa Haruka kepada Saitou Yakumo untuk menolong seorang temannya yang ditimpa musibah usai bermain uji nyali di sudut bangunan kampus yang angker. Yakumo awalnya tidak telalu antusias, tetapi akhirnya bersedia membantu Haruka memecahkan kasus tersebut dengan menggunakanbakat supranatural dan kemampuan analisisnya yang tajam. Sejak saat itu, Haruka pun meminta Yakumo untuk memecahkan kasus-kasus supranatural lain di sekitar mereka.

Komik ini merupakah salah satu seri yang pantas dikoleksi. Jalan ceritanya mudah diikuti, artworknya rapi, dan tokoh-tokohnya pun menghibur. Yakumo yang dingin dan cuek terpaksa menghadapi Haruka yang terlampau bersemangat menolong orang-orang yang kesusahan akibat dikutuk arwah. Yakumo sendiri punya alasan dia memilih bersikap antisosial. Salah satu matanya yang berwarna merah memiliki kemampuan melihat dan mendengar arwah di mana saja dan kapan saja. Akibatnya, Yakumo selalu bersikap sinis dan cenderung menyendiri akibat kurang percaya pada sifat baik manusia. Untungnya, ada Haruka yang nekat mengajak Yakumo agar bersikap lebih simpatik dan melihat mata merah Yakumo sebagai suatu kelebihan. Selain itu, ada juga tokoh Paman Yakumo dan Detektif Gotou yang selalu mendukung Yakumo, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Menurut saya, dua volume buku ini berisi tiga kasus yang semuanya menarik untuk disimak. Ketiganya memiliki unsur drama, tetapi kasus yang paling membekas di ingatan saya adalah kasus kedua tentang terowongan maut. Arwahnya memiliki mata seram penuh dendam dan sukses bikin bulu kuduk merinding. Beneran deh, komik yang satu ini bukan bacaan sebelum tidur.

Bagi yang penasaran dengan masa lalu Yakumo, boleh tuh ngelirik Psychic Detective Yakumo: The Alternate Story hasil goresan pena Suzuka Oda. Dari pengamatan sekilas sih, kelihatannya lebih serius, lebih kelam, dan lebih berdarah-darah.






4 butterflies!
Kisah menegangkan, cowok cool, dan artwork yang rapi. I crave for more volumes!



Rabu, 03 Juli 2013

Review Buku: The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang oleh John Green

Judul: The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang
Pengarang: John Green
Tanggal Terbit: Desember 2012
Penerbit: Qanita
Goodreads

Ringkasan dari Goodreads:
Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.

Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Amsterdam untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan.

Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hazel tetap optimistis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?

Novel ini membawa kita ke dunia para karakternya, yang sanggup menghadapi kesulitan dengan humor-humor dan kecerdasan. Di balik semua itu, terdapat renungan mengenai berharganya hidup dan bagaimana kita harus melewatinya.



 
The Fault in Our Stars adalah salah satu buku favorit saya di tahun 2012, karena itu saya sangat gembira ketika Qanita memutuskan menerjemahkan buku ini. Satu-satunya hal yang mengecewakan bagi saya adalah cover buku yang sangat kekanak-kanakan. Cover buku yaitu seorang gadis berambut panjang dengan anjing yang menatap bintang terasa sangat random, karena: 1. Hazel yang menderita kanker tidak mungkin punya rambut panjang, duh! 2. tidak ada anjing dalam cerita, dan 3. tidak ada stargazing moment dalam cerita.

Terlepas dari cover edisi Indonesia yang sangat random, saya sangat menyukai The Fault in Our Stars. Kisah cinta Hazel Grace dan Augustus Waters sangat indah, brilian, dan dipastikan akan membuat siapapun yang memiliki hati menangis membacanya. Buku ini begitu luar biasa dan yang saya inginkan ketika selesai membacanya hanyalah memeluk buku ini untuk kira-kira, yah, tiga jam. Tiga jam yang panjang dan berminggu-minggu meditasi untuk menenangkan diri saya dan membuat saya sadar bahwa dunia masih berputar seperti biasa. Maaf, jadi sedikit hiperbola.

The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang dimulai dengan Hazel Grace, sang tokoh utama yang menderita kanker thyroid. Ketika Hazel bertemu dengan Augustus di kelompok penyemangat penderita kanker, seketika muncul ketertarikan instan di antara mereka. Salah satu hal favorit saya di buku ini adalah ceritanya berjalan mau ke depan tanpa satu pun momen flashback. Seakan-akan hidup Hazel dimulai persis ketika ia bertemu Augustus. Dan saya percaya bahwa hal yang sama juga dialami Augustus. Sangat berbeda namun begitu mirip, saya sangat menyukai interaksi antara Hazel dan Augustus. Sangat menarik melihat betapa sinis Hazel terkadang, dan betapa ceria Augustus selalu. Mereka jelas-jelas ditakdirkan bersama, dan tanpa menyadarinya, saya sudah terlalu terikat dengan karakter-karakter di buku ini.

Peristiwa-peristiwa di buku ini, seperti ketika Hazel dan Augustus pergi ke Belanda, bertemu penulis favorit Hazel (Peter Van Houten, oh how much I hate you), maupun ketika Augustus mengalami momen breakdown, ditulis dengan sangat apik dan membongkar lebih banyak lagi lapisan dalam diri karakter-karakter di buku ini. Ini adalah buku yang sangat romantis, dan bahkan John Green sendiri mengakui bahwa The Fault in Our Stars adalah buku paling romantis yang pernah ia tulis. Hazel dan Augustus adalah pasangan yang indah, dan berdua mereka seakan melengkapi satu sama lain.

Pada akhirnya, satu-satunya yang bisa saya katakan hanyalah: BACA BUKU INI. The Fault in Our Stars memberikan definisi baru pada ‘fiksi tentang karakter yang menderita kanker’ bagi saya. The Fault in Our Stars bukan hanya berisi cerita sedih, namun juga filosofi hidup, persahabatan, dan cinta sekali seumur hidup. Ini adalah buku yang akan selalu saya ingat.






5 butterflies!
Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. LOVE it.

 


Review Komik: Moon's Fever oleh OZAKI Ira

Judul: Moon's Fever
Pengarang: OZAKI Ira
Tanggal Terbit: Juni 2013
Penerbit: M&C! Comics
Baka-Updates

Ringkasan dari cover buku:
Kumi mengalami kecelakaan setelah bertengkar dengan Takatori, kekasihnya. Saat sadar, di sisinya berdiri keluarga dan kekasihnya yang mencemaskannya. Namun, Kumi yang keras kepala spontan berpura-pura tidak ingat pada Takatori. Akibatnya, ia dikira mengalami amnesia! Kumi terjebak, tak bisa bilang kalau ia sebenarnya bohong. Apa yang akan Kumi lakukan?! Bagaimana kelanjutan kisah cintanya dengan sang kekasih?!





Moon’s Fever berisi empat oneshots karya OZAKI Ira, yaitu Pure Love Percentage, Moon’s Fever, One-Way Navigation, dan Love in July. Cerita Moon’s Fever, meskipun memiliki ide cerita yang sangat menarik, namun dalam karakterisasi menurut saya kurang digali. Jalan cerita sedikit membosankan karena setting ‘amnesia parsial’ yang dialami tokoh utama hanya terjadi di rumah sakit. Moon’s Fever yang merupakan judul utama dalam manga ini malah menjadi cerita yang paling ‘biasa’ menurut saya.

Pure Love Percentage menceritakan tentang gadis yang menumpang tinggal di tempat adik kelasnya karena kesepian setelah putus cinta. Cerita ini dan cerita ketiga, One-Way Navigation, memiliki tokoh-tokoh yang sudah kuliah. Mungkin karena itu cerita terasa lebih dewasa dan karakterisasi tokoh lebih tergali. One Way Navigation berkisah tentang pertemanan unik antara dua mahasiswa baru yang mengikat pertemanan melalui keinginan mereka untuk berbuat jail. One Way Navigation adalah cerita yang sangat realistis dan menjadi cerita favorit saya di komik ini. Cerita keempat di buku ini, Love in July, adalah cerita yang sangat manis dan sesuai dengan setting cerita di SMA. Pertemuan yang dialami kedua tokoh utama tersebut sangat menarik.

Secara keseluruhan, Moon’s Fever adalah kumpulan oneshots yang menurut saya pantas dibaca. Cerita-cerita karya OZAKI Ira memiliki humor segar dan twists yang akan menarik bagi pembaca yang bosan dengan komik shoujo yang itu-itu saja. Hal yang mengganggu saya ketika membaca komik tersebut malah catatan penerjemah (translator notes) yang memberikan definisi kata-kata seperti daifuku, ineyarou, dan tadaima dalam bahasa Inggris. Menurut saya catatan dalam bahasa Inggris itu akan lebih baik apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Namun terlepas dari itu, Moon’s Fever adalah pilihan yang tepat bagi penggemar komik yang ingin membaca komik shoujo yang berbeda dari shoujo biasa.





3.5 butterflies
Kumpulan shoujo oneshots yang cukup unik dan beda dari biasa.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...