Kamis, 27 Juni 2013

Review Buku: Gadis Kretek oleh Ratih Kumala

Judul: Gadis Kretek
Pengarang: Ratih Kumala
Tanggal terbit: 23 Februari 2012
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads

Ringkasan dari cover buku:
Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?



"Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta"

Kalimat yang tertera di sinopsis buku ini pas banget, karena inti kisahnya memang dua hal tersebut: kretek dan cinta. Dimulai dari persaingan generasi pertama merebut hati gadis pujaan di era kemerdekaan, berlanjut pada kisah cinta generasi kedua antara Dasiyah dan Soeraja di era kekacauan G30S PKI, dan akhirnya cerita ditutup di generasi ketiga pada era demokrasi saat para cucu mencari tahu masa lalu Romo dan Eyang mereka.

Dan perekat kisah ketiga generasi tersebut adalah kretek, jantung penggerak perekonomian Kota M. Inilah yang membuat buku ini asyik dibaca: bukan cinta melulu. Ketiga generasi tersebut memiliki benang merah. Keputusan yang diambil generasi pertama bisa jadi merupakan cikal bakal masalah yang dihadapi generasi ketiga.

Cerita Gadis Kretek dituturkan dari berbagai sudut pandang. Bab pertama adalah sudut pandang tokoh Lebas, salah seorang cucu Romo, sebagai "aku" dan kemudian di bab-bab selanjutnya, sudut pandang berganti menjadi sudut pandang ketiga berbagai tokoh. Dengan demikian, pembaca dapat memahami alur cerita dan persepsi berbagai karakter sehingga tidak ada figuran yang menimbulkan kesan "numpang lewat".

Suasana "jadoel" yang dihidupkan Ratih Kumala pun cukup terasa oleh diksi, interaksi para tokoh, dan tentu saja transformasi kretek yang dulunya tingwe alias linting sendiri menjadi kemasan pabrik. Hal yang kurang di buku ini hanya penggambaran tempat tinggal kediaman dan pakaian para tokoh sebagai penegasan cerita, tetapi pembaca cukuplah bisa mengira-ngira.

Selain itu, ada dua hal yang membuat saya mengerutkan dahi. Pertama, terjemahan untuk percakapan dalam bahasa Jawa diletakkan di akhir bab dan bukan dalam bentuk catatan kaki. Saya menebak hal ini dimaksudkan agar kenikmatan membaca tidak menganggu. Akan tetapi, bagi yang tidak bisa berbahasa Jawa (seperti saya), hal tersebut malah merepotkan. Setiap kali saya menemukan percakapan yang tidak saya mengerti, saya perlu mencari keterangan tentang bab sekian di halaman akhir sehingga perlu bolak-balik menandai halaman tertentu.

Kedua, ketika sudah dekat akhir cerita, rasanya seperti film action: agak ngebut dan grasak-grusuk. Hal ini cukup disayangkan karena pace cerita yang tadinya terjaga dengan rapi menjadi sedikit kacau. Rasanya seperti menonton film bagus yang mengalami pemotongan adegan karena waktunya terbatas.

Tetapi gak apa deh, ada bonus ilustrasi merek-merek kretek yang muncul di buku ini! Cakep sekali.





3. 5 butterflies
Hasilnya, 3.5 bintang! Recommended, tapi kemungkinan enggak baca ulang di waktu dekat.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

We love reading comments from our readers, so please leave us your thoughts! Kami akan selalu membalas komentar kamu di blog ini dan juga mengunjungi balik blog kamu. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...