Jumat, 29 Agustus 2014

Review Buku: Garis Batas oleh Agustinus Wibowo

Judul: Garis Batas
Pengarang: Agustinus Wibowo
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Goodreads



Dari Goodreads:
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu dan lempung. Mereka memandangi gadis-gadis bercelana jins tertawa riang, sementara kaum perempuan mereka sendiri buta huruf dan tak bebas bepergian.

Negeri seberang begitu indah, namun hanya fantasi. Fantasi yang sama membawa Agustinus Wibowo bertualang ke negeri-negeri Asia Tengah yang misterius. Tajikistan. Kirgizstan. Kazakhstan. Uzbekistan. Turkmenistan. Negeri-negeri yang namanya semua berakhiran "Stan". Perjalanan ini bukan hanya mengajak Anda mendaki gunung salju, menapaki padang rumput, menyerapi kemegahan khazanah tradisi dan kemilau peradaban Jalan Sutra, ataupun bernostalgia dengan simbol-simbol komunisme Uni Soviet, tetapi juga menguak misteri tentang takdir manusia yang terpisah dalam kotak-kotak garis batas.






Menurut KBBI versi daring, definisi batas: 1 garis (sisi) yg menjadi perhinggaan suatu bidang; 2 ketentuan yg tidak boleh dilampaui; 3 perhinggaan.

Bagi Agustinus Wibowo, garis batas yang ia lihat di Asia Tengah (dan belahan bumi lainnya) lebih dari sekadar fenomena alam sungai dan gunung yang membagi wilayah. Garis batas itu hadir dalam berbagai bentuk: warna kulit, pakaian, suku, agama, ras, status sosial, kelas ekonomi, idelogi, politik, mata uang, bahasa, sejarah, dan sederet hal lainnya. Garis batas tersebut mengaburkan sekaligus mengukuhkan identitas yang tersemat pada setiap orang.

Negeri-negeri Asia Tengah yang Agustinus kunjungi dahulunya menjadi bagian dari Uni Soviet. Namun setelah Uni Soviet bubar, muncul kebutuhan mendesak atas identitas baru bagi negara-negara ciptaan Stalin tersebut. Hal itu tidaklah mudah dipenuhi setelah sekian lama berinduk ke Moskow. . Oleh karena itu, ditetapkan satu set identitas baru: pahlawan nasional, lagu nasional, bahasa nasional, kitab pedoman nasional, tari nasional, motif tenun nasional... hal-hal bersifat berkebangsaan digali dan didengungkan untuk negeri di era yang baru. Latar belakang sang pengarang yang berdarah Tiongkok namun berpaspor burung Garuda mewarnai pandangannya mengenai kehidupan para penduduk Asia Tengah yang kini berjalan masing-masing. Ia pun membandingkan pencarian akar bangsa Asia Tengah dengan pengalamannya sendiri. Meskipun skalanya jauh berbeda, cukup menarik melihat pemikiran sang pengarang.

Kisah pertama datang dari Tajikistan. Di halaman awal diceritakan bahwa pengarang yang duduk di atas keledai Afganistan memandang iri mobil-mobil yang melintas di atas jalan mulus Tajikistan. Meskipun hanya dipisahkan sungai, jarak kedua negara ini tidak bisa dianggap remeh. Selamat menyeberang ke Tajikistan, ternyata kehidupan di negeri tersebut tidak seindah yang terlihat dari lereng gunung Afganistan. Lepas dari Tajikistan, Agustinus menyeberang ke Kirgiztan, Uzbekistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Setiap negara punya cerita masing-masing, ada yang ekonominya morat-marit, ada yang berubah menjadi kapitalis, dan ada pula yang berlagak mampu mencukupi semua kebutuhan sambil memata-matai rakyat.

Kekurangan buku perjalanan ini adalah Agustinus tidak menyertai tanggal perjalanannya saat mencapai suatu daerah. Tidak perlu spesifik, cukup minggu, bulan, dan tahun. Kekurangan lainnya mengenai pembagian penceritaan tentang suatu negara. Pembagian bab sesuai negara memang cukup memudahkan, tetapi kadang-kadang muncul perbandingan antara dua negara atau lebih setelah suatu pemaparan panjang tentang opini sang pengarang. Saya jadi lupa saya sedang berada di bab negara mana. Jujur saja, peta sederhana yang disisipkan pengarang tidak banyak membantu. Setelah membaca satu negara sampai habis, barulah peta tersebut dipahami. Saya sarankan membaca buku ini sambil membuat catatan kecil tentang bab yang sedang dibaca sebelum berlanjut ke bab selanjutnya.

Pada akhirnya Garis Batas adalah sebuah buku yang patut dibaca.





3 butterflies!
Penulisan yang inspiratif dan kisah yang menarik.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

We love reading comments from our readers, so please leave us your thoughts! Kami akan selalu membalas komentar kamu di blog ini dan juga mengunjungi balik blog kamu. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...