Sabtu, 25 Januari 2014

Review Buku: Bangkok oleh Moemoe Rizal

Judul: Bangkok
Pengarang: Moemoe Rizal
Tanggal Publikasi: 2013
Penerbit: Gagasmedia
Goodreads

Sinopsis dari Godreads:
Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR




Edvan, arsitek ganteng bin narsis mengalami dilema. Setelah bertahun-tahun perang dingin dengan keluarganya, ia diminta berkeliling Kota Bangkok demi mencari lembaran-lembaran jurnal yang telah lama terpencar. Parahnya lagi, tugas itu semacam wasiat sang ibu, orang yang selama ini ia rindukan sekaligus hindari.

Edvan yang tidak tahu apapun mengenai Bangkok, meminta bantuan seorang gadis mantan pramugari untuk menemaninya keliling mencari jurnal. Tidak gratis, Edvan harus membayari semua pengeluaran pencarian itu.

Sudah tahu dong, arah ceritanya ke mana.

Namun, petualangan Edvan rupahnya tidak disangka-sangka. Selain harus menelusuri kenalan ibunya dahulu, Edvan mengalami konflik batin perihal transgender dan pengembangan kota. Apakah selama ini opininya sudah benar?

Pantas tidaknya Bangkok: The Journal dikoleksi, hal itu kembali ke selera masing-masing. Bagi pembaca yang menyukai gaya menulis yang kocak, ringan, dan sarat dialog sehari-hari, buku ini adalah pilihan yang tepat. Saya suka sekali dengan narasi konyol Edvan si cowok narsis penggila kesuksesan.

Sayangnya, ending cerita kurang greget. Konflik awalnya isu A, kok endingnya malah isu B. Selain itu, kertasnya! Saya bingung deh kenapa buku STPC gemar memburamkan kertas agar berkesan "catatan perjalanan". Saya jadi susah membaca tanpa penerangan tambahan kalau cuaca mendung. Akan lebih baik jika kertas tetap berwarna terang dan desain "catatan perjalanan" hanya di bagian pembuka atau halaman judul bab.
 



 3 butterflies!
Berharap mampu memberikan rating empat bintang, tetapi tiga bintang lebih mewakili.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

We love reading comments from our readers, so please leave us your thoughts! Kami akan selalu membalas komentar kamu di blog ini dan juga mengunjungi balik blog kamu. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...